Belakangan ada begitu banyak hal yang terjadi dan membuat saya dan beberapa teman dekat saya berpikir soal mati. Bahkan terlintas untuk mengambil pilihan itu, ketika kami merasa disakiti, diabaikan, ditinggalkan, dipaksa, tidak dimengerti, kesepian dan frustasi. Beruntung belum ada seorang pun dari kami yang berani mengambil keputusan untuk memotong nadi, menenggak racun serangga, menggantung diri, atau melompat dari ketinggian. Kami kesakitan? Ya! Kami lelah? Ya! Dan masih banyak lagi perasaan negatif lain yang menghinggapi kami. Cara yang kami ambil untuk mengatasinya beragam, ada yang memilih untuk larut dalam pekerjaan, ada yang memilih untuk bicara pada orang lain, diam, atau tak berhenti menulis. Dan beruntung hingga hari ini kami masih bernafas. Masih eksis di dunia maya. Masih pergi kerja. Masih melakukan hal-hal yang seharusnya kami lakukan. Meski kami berulang kali berteriak lelah, capek, benci. Kami juga menyakiti orang-orang di sekitar kami dan menggugat segalanya.
Kami dan mungkin orang-orang lain sempat memilih mati, karena mati terlihat lebih mudah, mengakhiri segalanya, termasuk penderitaan yang tak kunjung habis ini. Menderita karena dicampakkan dengan sebuah SMS, dibuai dan diperdaya dengan janji, ditinggalkan begitu saja. Hidup terlalu liar, tak tahu mengarah kemana. Mati itu pasti dan terlihat lebih 'jelas'. Mati fisik, mati rasa. Selamat tinggal masalah, selamat tinggal pengkhianat, selamat tinggal penjahat.
Namun sebelum memutuskan metode terbaik untuk mengakhiri semua masalah ini, saya sempat membuka Kitab Kehidupan dan menemukan penyejuk di dalamnya. Yang Maha berkata, "Janganlah engkau membunuh dirimu, sungguh Ia Maha Penyayang terhadapmu." Dan di satu malam, saya menemukan beberapa baris pencerahan lain. "Barang siapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya di dunia dan di akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit-langit, lalu menggantung diri, kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakiti hatinya." (QS. 22:15)
Saya bukan ahli tafsir. Tapi menurut pemahaman sederhana saya, menggantung diri alias bunuh diri ternyata tidak akan melenyapkan sakit hati. Yang terbayang, saya cuma akan jadi arwah gentayangan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dan mungkin hanya akan semakin sakit hati melihat semua yang saya tinggalkan, menerima fakta bahwa tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Kecuali mungkin menghantui orang-orang yang bikin saya sakit hati. Itu juga kalau bisa. Saya belum pernah mati. Tidak tahu setelah mati akan seperti apa. Jadi risikonya terlalu besar untuk coba-coba mati. Kalau hidup, saya sudah pernah, minimal saya tahu harus melakukan apa. Misalnya terus coba bernafas, meskipun sakit, perih, benci, kesal, gundah gulana, frustasi sembari memohon pertolongan-Nya. Masih terlalu dini untuk mati.
Belajar, Tumbuh, dan Berproses
6 tahun yang lalu
1 comments:
my words... bounce back to me just right at the moment i read this, vy.
Posting Komentar