Why God take all the persons we love or we thought we love? Maybe.. to make us understand that family members are getting older and finally die. Relatives are busy with their own business, getting older and also will die. Boyfriend or girlfriend leaves you or cheat on you. Husband or wife become annoying or cheating on you. And your true love gone forever, because of illness or suddenly passed away.
Why.. all these shits should happen to us? In my opinion, because God want us back in His way and just rely on Him.. Only Him.. Who creates us, who make us live and make us die..
Belakangan, di usia yang lebih dari seperempat abad, hidup mulai mengajari saya dengan cara yang lebih keras. Sapaan-sapaan Tuhan mulai datang lebih sering. Ia memberikan saya teguran keras dengan merampas orang yang saya pikir paling saya cintai di luar keluarga, menyapa saya dengan kematian orang-orang yang pernah menyentuh hidup saya dan terus memberi kesulitan-kesulitan lain. Kadang saya berpikir Tuhan benar-benar membuat saya 'break down'. Membuat saya berpikir saya benar-benar tidak punya apa-apa, selalu jadi orang yang dicampakkan, ditinggalkan, disalahkan. Bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak pernah saya minta dan harapkan. Lalu saya berpikir dunia ini 'adil' sekali ya?? (in contrary) daripada saya terus-terusan teriak "Brengseeeeekkk!!!"
Untungnya di antara keputusasaan, saya masih sempat berpikir jernih. Saya mulai rajin membaca buku-buku tentang agama yang saya anut, membaca kitab-Nya dan melirik situs-situs yang berbau agama. Dari buku-buku itu, saya mulai menerima tujuan saya diciptakan dan mengerti mengapa saya sebaiknya menerima apapun yang terjadi dan berhenti protes. Selain itu, dari kitab-Nya saya juga mulai mengetahui lebih dalam mengenai utusan-utusan-Nya, umat-umat terdahulu, bahkan hingga aturan sopan santun mengetuk pintu kamar orang tua jika kita ingin masuk ke dalam. Dari sekian banyak situs di internet, ada satu yang menjadi favorit saya dan saya follow dari akun twitter. Adapula situs yang belakangan saya hindari, karena saya pikir isinya terlalu 'kejam'. Sedangkan situs favorit saya bisa menyampaikan hal yang prinsip, yang keras, dengan bahasa sederhana yang logis dan tidak mengintimidasi dan membuat saya masih ingin terus melanjutkan hidup, meski dalam keadaan yang compang camping dan tercabik-cabik.
Beberapa hari yang lalu, narasumber di situs favorit saya juga menyatakan bahwa Tuhan akan mendengarkan doa kita dalam bahasa apapun, asalkan dilantunkan dengan tulus. Baiklah.. itu sangat membantu, karena belakangan saya sangat sulit berdoa dan mengungkapkan apa yang benar-benar saya inginkan. Saya takut keinginan saya justru tidak baik untuk saya, bahkan mungkin merugikan orang lain. Jadi saya berdoa yang netral-netral saja, saya minta Tuhan mengampuni dosa-dosa saya dan memberi saya yang terbaik.
Kemudian saya coba memahami arti bacaan yang tiap hari saya lantunkan, namun ternyata saya hanya tahu artinya samar-samar. Sedangkan menghafalkan doa-doa yang katanya 'terpilih', saya belum sanggup, karena panjang-panjang sekali. Lalu saya coba membaca dan menghafal arti tiga surat terakhir dalam kitab suci saya, kemudian termangu-mangu. Kenapa ya selama ini saya harus bingung memilih doa? Tiga surat terakhir itu sudah merupakan doa yang baik dengan inti: meminta segala sesuatu hanya pada-Nya dan berlindung pada-Nya dari segala sesuatu yang membahayakan di sekeliling saya. Mungkin selama ini saya hanya belum mencelupkan keyakinan yang sangat saat membaca semua doa itu. Saya belum percaya bahwa Dia mendengarkan semua doa dan permintaan saya. Saya belum percaya bahwa Dia akan memberi saya yang terbaik. Saya belum percaya Dia akan memberi perlindungan pada saya. Jadi semua hanya lewat saja. Ampuni saya ya Tuhan..
Dan ampuni saya, karena mungkin selama ini saya lebih percaya pada manusia lain, bukan pada-Mu. Manusia lain yang saya pikir bisa menolong, bisa memberi saya rasa aman, bisa mencintai saya setulus hati, bisa melindungi saya. Manusia yang katanya membutuhkan saya, yang tidak akan meninggalkan saya, yang akan sayang sama saya selamanya. Akhirnya... semua hanya bubar jalan.. Sedangkan Engkau, terus menerus menyapa, terus menerus mengurus dan melindungi, hingga saya sampai di titik untuk mempercayakan semua pada-Mu.. hanya pada-Mu.. Yang Maha Sempurna.. Yang Tak Pernah Mengingkari Perjanjian.. Kepada-Mu aku bersandar dan menyerahkan semuanya..
Belajar, Tumbuh, dan Berproses
6 tahun yang lalu
0 comments:
Posting Komentar