Burn

30.7.10


From dust to dust
Itulah kita.. manusia..
yang berjalan sementara saja di atas dunia
Esok lusa semua tak lagi sama
Termasuk cinta..
yang datang karena iba.. kemudian berubah jadi murka
Hingga rasanya ingin membakar semuanya
Menghapus jejak
Menghilangkan kenangan
Menyembuhkan perih

Itulah kita.. dari debu menjadi debu
dan semoga apa yang sudah jadi debu
Membantu sedikit membuyarkan masa lalu

Ini Tentang..

27.7.10

Bukan keinginan
Ini cuma perasaan
Yang tertinggal dalam bentuk kepingan kenangan
Yang tak bisa dimatikan
Juga diatur kemunculannya
Ia datang seketika
Dan pergi lagi perlahan-lahan
Ia penuh kejutan
Seperti jalan hidup yang tak pernah ku tahu arahnya
Dan ini bukan lagi tentangmu
Atau tentang siapapun
Aku tak ingin lagi menulis untukmu
Ini untukku.. Tentang aku..
Yang menyendiri namun tak lagi sepi..

Ampas Kenangan

22.7.10


Sesak rasanya, saat menengok ke belakang dan terasa seperti menelan ampas. Memang masih ada kenangan, tapi kini diingat di atas dusta yang sudah berkerak. Kenapa harus membohongi aku? Tak layak kah aku menerima jujurmu? Bahkan di hari terakhir aku bertemu denganmu, kau masih menanamkan dusta ke dalam otakku.

Jika sulit sekali untuk mengenang, mungkin memang berarti tidak ada yang patut dikenang.

Your Truth Which Is Used Against You

21.7.10


Tidak pernah terbayang, berapa lama kita hidup dalam gelap dan sewaktu terang harus datang, mendadak semua menjadi benderang. Mungkin dalam hitungan hari, minggu, bulan atau tahun. Tapi terang itu selalu datang. Meski mengenang bisa berarti kembali membiarkan air matamu menggenang. Atau memaksamu sekuat tenaga menahan murka. Bukan lagi kecewa akan cinta yang telah hilang. Tetapi marah karena jujurmu dimanipulasi menjadi dusta. Dusta yang disebarkan dan kini sudah terlalu berkarat untuk diluruskan.

Tapi ujar terang, "Inilah alasan mengapa kamu tidak ditakdirkan bersamanya. Dan aku yakin kamu pun pernah merasa, mengapa Tuhan seperti tidak membiarkanmu bersamanya. Ini jawabnya. Sudah terlalu banyak dusta yang ditutupinya. Bahkan jujurmu pun dipakainya untuk berdusta."

Menyedihkan saat menengok ke belakang, apa yang pernah teryakini, kemudian terjadi, tanpa bisa diulang kembali. Berbisik hati pada diri, seandainya saja ada tindakan yang dilakukan. Bukan hanya menyangkal dan menafikkan.

Teman.. aku sudah belajar.. bahwa seorang berwajah malaikat bisa jadi seorang psikopat. Ia bicara dengan manisnya dan merangkai fakta seolah dirinyalah yang teraniaya. Tanpa memberi kita kesempatan untuk menduga berapa hati yang sudah dihancurkannya. Kita memilih untuk percaya. Bukan karena tanda-tanda itu tak ada. Tapi karena kita hanya ingin percaya padanya. Sudah banyak fakta yang mengetuk-ngetuk "jendela". Mereka minta dipercaya. Tapi kita tetap memilih buta..

Demi menyelamatkan semuanya yang sudah berada di bibir jurang, kita memilih untuk bicara, jujur apa adanya. Lalu yang terdengar hanya sesayup maaf. Lalu semua berputar dengan cepat menuju waktu fakta bicara. Yang terbongkar adalah 'Jujurmu menjadi dusta yang digunakan untuk membenarkan apa yang tak pernah benar.'

Lalu kau kembali berjalan menahan nyeri.. Mengingat kejujuranmu lah senjatanya. Dan harapanmu lah yang mengaburkan semua pertanda.

Semoga kita semua terampuni..

Some people just don't deserve your truth or your brave heart. They're just some kind of coward..

Cerita Konyol Kita

14.7.10

Aku cuma ingin bertanya..
Adakah kau bercerita pada yang lainnya, tentang rumah lamamu, masa kecilmu, tatapan anjingmu saat ia memutuskan untuk berpisah denganmu dan setia pada betinanya? Adakah kau beri tahu perasaanmu saat itu pada yang lainnya?

Aku juga ingin tahu, apakah sama binar matamu saat bercerita tentang 'pacar pertamamu' padaku dan pada yang lainnya?

Terdengar konyol, terdengar remeh. Tapi untukku semua tentangmu istimewa. Dan aku pun merasa sangat istimewa saat kau mau berbagi denganku. Meski hanya bisa dalam hitungan jam.. Aku mensyukurinya..

Terima kasih sudah mau berbagi denganku. Terima kasih sudah membuka dirimu. Meski hatimu tak kan pernah jadi rumahku. Hingga mengucur deras air mataku. Entah bahagia untukmu. Entah pilu.. Aku tak tahu..

Sampai bertemu di hidup yang akan datang..

While listening to Koil - Dan Cinta Kita Terlupakan (1371)

Kebebasan Itu Menakutkan!

13.7.10

Hitung! Berapa kali kita ada dalam satu ikatan dan ingin sekali melepaskannya dengan berbagai alasan? Dan ingat! Berapa kali kita ada di tepi jurang perpisahan dan merengek untuk mempertahankannya dengan berbagai alasan dan daya upaya?

Kebebasan itu menakutkan teman. Memang kau bebas, namun tak berarti tanpa kehilangan. Tak ada yang benar-benar bebas selama masih menjejak tanah. Kebebasan akan selalu berjalan beriringan dengan kehilangan. Dan kehilangan itu menakutkan..

Hingga banyak yang tetap memilih asyik masyuk dalam ikatan meski di sisi lain berteriak ingin bebas. Menjadi seorang "wajib lapor" dalam hubungan yang miskin kepercayaan dan tidak membebaskan. Tak ada orang yang benar-benar bisa bebas bukan? Meskipun terus melengkingkan keinginan untuk pergi, lari dan berhenti.

Cukup menipu diri sendiri. Kebebasan itu angan-angan. Kebebasan itu kehilangan.. Dan kehilangan itu menakutkan..

(written in mode of anger and cynical)

Seperti Biasa

Seperti biasa..
Sekelebat bayanganmu kembali memporak-porandakan tembok pertahananku
Tak tahu kah bahwa aku membangunnya susah payah?
Kini aku kembali harus memunguti serpihan-serpihannya.. SENDIRI!!
Ingin aku teriak agar kau mengerti
Tapi kau tuli
Jadi selama ini aku hanya berteriak pada diri sendiri..

Hari-Hari yang Berat

12.7.10

Setelah vonis itu dan setelah hampir 70 persen keputusannya adalah mengangkat organ yang bermasalah, ia lebih sering terlihat duduk, berbaring dan menyendiri. Dan titik-titik bening juga semakin kerap menghiasi wajahnya.

Mungkin semua perasaan jadi satu. Takut, khawatir, stres, sedih, bingung, marah. Tapi aku juga tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku hanya bisa mendampinginya, melewati masa-masa yang mungkin jadi saat paling sulit dalam hidupnya. Tanpa bisa banyak bicara. Hanya bisa meyakinkan, bahwa mari bersama-sama kita lewati apa yang harus dilewati.

Aku tak ingin ikut berderai air mata. Jika ini memang harus dilalui. Jika ini memang harus terjadi. Mari kita jalani. Kau tak sendiri. Aku dan yang lainnya ada di sini. Percaya pada-Nya, karena semua memang milik-Nya. Suatu hari Ia akan meminta semuanya kembali..

*Kuatkan hatimu dear auntie*

The Vonis

8.7.10

Shock! Itu yang saya rasakan hari ini. Hari dimana apa yang ditakuti benar-benar terjadi. Tante saya divonis kanker serviks stadium awal. Vonis yang dijatuhkan setelah seminggu yang lalu dilakukan biopsi untuk mengambil sampel jaringan yang diduga kanker.

Awalnya kami semua mencoba berpikir positif bahwa ini hanya polip yang tumbuh di leher rahim. Tapi kok, hasil uji jaringannya jadi kanker? Tuhan ini cobaan apalagi ya?

Tapi hidup ini memang serangkaian ujian tanpa henti sampai mati bukan? Tiap manusia mendapat cobaannya sendiri. Pun demikian tiap keluarga.

Memang masih stadium awal, tapi kata KANKER itu merujuk pada sesuatu yang benar-benar momok. Bagi keluarga terdekat sulit untuk tetap duduk tenang. Tapi saya yakin Tuhan selalu punya rencana. Saya cuma bisa terus berpikir positif dan membantu semampu saya. Semoga vonis ini, tidak menurunkan mental kami semua secara drastis. Semoga vonis ini membuat kami lebih menghargai kehidupan, mencari makna dan kebaikan di tiap langkah kehidupan kami dan yang utama.. tetap semangat untuk mempertahankan hidup dan berserah diri pada-Nya Yang Maha Kuasa..

Untuk semua perempuan yang membaca posting ini, mari serius memikirkan untuk imunisasi serviks. Untuk masa depan..

*And for u dear auntie, my second mom.. please be strong.. *


Brutality of Love

7.7.10


desire.. doubt.. despair and destruction

First of all, it's about desire.. desire to have someone by your side, someone who's ready to hold you whenever you need it. You neither care about the situation nor condition. You just wanna have him or her. Having she/he is your greatest desire..

And poorly.. the desire grows together with doubt. You start questioning. Is it right? Is this what i want? Will it be nice? Will it be true? Will it be like my imagination? And those signs just keep coming by. You just ignored some of them.. But they continually knocking at your door. The desire grew inside your heart and so did the doubt.

Time went by and you just can't blind yourself more and more. Sooner or later the signs become clearer and you fall into something called despair, though you still have a great desire..

And in the end.. The complexity of desire and despair mixed together and transform to something called appetite for destruction. If i can't have something that i want, then nobody will. And you start playing with your mind. Creating the most perfect scenario. "What if? How if?" Your mind plays tricks..

All of the energy that you have.. should be converted into something.. The destruction itself or sense to create anything you can, including writing almost 90 blog posts in just a couple of month. And the story started from the day you met someone that you used to call "love".. until you.. yourself don't know when to stop.. coz' the memories still remain.. and you still can write it down.. anything that came up your mind, even every single smile, laugh and tears..

This is called the brutality of love.. sense to destruct.. sense to build.. sense to create.. The most powerful drive..

It's good to be in love, though it hurts so bad not to be loved.. But this pain did drive me to do anything i've never imagined before.. destructing and creating..

i wanna move on.. i wish..

My Poisonous Love

6.7.10

Hari ini aku sentimentil sangat. Mengintip "jendela" orang lain dan menemukan sebentuk cinta yang hangat di dalamnya. Ia bicara cinta sepenuh hatinya. Dan aku tak dapat menahan butir-butir hangat jatuh dari pelupuk mata.

Maaf jika aku masih sama dan serupa. Cinta masih mengingatkan ku padamu. Seorang teman, pelindung, penyelamat, pencinta sekaligus penghancur. Kamu yang membantuku berdiri, berlari. Kamu yang menatapku lekat, merengkuhku hangat dan mendekapku erat. Kamu yang mengikat ku dalam lingkaran yang tak pernah terbayang sebelumnya. Kamu yang mengajariku arti bertahan. Kamu yang ajari aku cemburu yang tak acuh, hingga penuh murka.

Jika bicara cinta, masih kamu yang melintas di kepalaku. Kamu yang mengajariku arti kehilangan. Kamu yang menanamkan pelajaran untuk tidak berpegang pada seseorang terlalu erat.. Alih-alih tenggelam atau ditinggalkan..

*Terimakasih sudah memampukanku mencintai dan kehilangan sebesar ini.. Terima kasih juga Tuhan..*


Relieve (part 2)

4.7.10

Hari ini aku belajar, terus menerus menahan air mata hanya menambah luka. Jatuhkan saja.. Lepaskan saja.. Kadang hanya itu yg bisa kita berikan untuk cinta yang hilang, 'gelas' yang pecah, atau amarah yang singgah..
Ini air mataku.. Ia yang bersihkan lukaku..

-271-

Jangan lagi

1.7.10

Jika aku boleh mengeluh, tolong Tuhan.. Jangan Kau kirim lagi orang-orang yang hanya bisa berseru "aku bingung" atau "aku tidak tahu" atau "terserah kamu" atau "aku... tapi..."

Aku sudah lelah Tuhan.. berjalan tanpa arah, menabrak batu karang, dihantam ombak, dihempas angin dan hanya mendapat kalimat-kalimat yang sama, cuma keluar dari mulut yang berbeda.

Aku butuh hal yang pasti, aku butuh jawaban percaya diri.