Rely on 'Him'

29.5.10

Why God take all the persons we love or we thought we love? Maybe.. to make us understand that family members are getting older and finally die. Relatives are busy with their own business, getting older and also will die. Boyfriend or girlfriend leaves you or cheat on you. Husband or wife become annoying or cheating on you. And your true love gone forever, because of illness or suddenly passed away.
Why.. all these shits should happen to us? In my opinion, because God want us back in His way and just rely on Him.. Only Him.. Who creates us, who make us live and make us die..


Belakangan, di usia yang lebih dari seperempat abad, hidup mulai mengajari saya dengan cara yang lebih keras. Sapaan-sapaan Tuhan mulai datang lebih sering. Ia memberikan saya teguran keras dengan merampas orang yang saya pikir paling saya cintai di luar keluarga, menyapa saya dengan kematian orang-orang yang pernah menyentuh hidup saya dan terus memberi kesulitan-kesulitan lain. Kadang saya berpikir Tuhan benar-benar membuat saya 'break down'. Membuat saya berpikir saya benar-benar tidak punya apa-apa, selalu jadi orang yang dicampakkan, ditinggalkan, disalahkan. Bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak pernah saya minta dan harapkan. Lalu saya berpikir dunia ini 'adil' sekali ya?? (in contrary) daripada saya terus-terusan teriak "Brengseeeeekkk!!!"

Untungnya di antara keputusasaan, saya masih sempat berpikir jernih. Saya mulai rajin membaca buku-buku tentang agama yang saya anut, membaca kitab-Nya dan melirik situs-situs yang berbau agama. Dari buku-buku itu, saya mulai menerima tujuan saya diciptakan dan mengerti mengapa saya sebaiknya menerima apapun yang terjadi dan berhenti protes. Selain itu, dari kitab-Nya saya juga mulai mengetahui lebih dalam mengenai utusan-utusan-Nya, umat-umat terdahulu, bahkan hingga aturan sopan santun mengetuk pintu kamar orang tua jika kita ingin masuk ke dalam. Dari sekian banyak situs di internet, ada satu yang menjadi favorit saya dan saya follow dari akun twitter. Adapula situs yang belakangan saya hindari, karena saya pikir isinya terlalu 'kejam'. Sedangkan situs favorit saya bisa menyampaikan hal yang prinsip, yang keras, dengan bahasa sederhana yang logis dan tidak mengintimidasi dan membuat saya masih ingin terus melanjutkan hidup, meski dalam keadaan yang compang camping dan tercabik-cabik.

Beberapa hari yang lalu, narasumber di situs favorit saya juga menyatakan bahwa Tuhan akan mendengarkan doa kita dalam bahasa apapun, asalkan dilantunkan dengan tulus. Baiklah.. itu sangat membantu, karena belakangan saya sangat sulit berdoa dan mengungkapkan apa yang benar-benar saya inginkan. Saya takut keinginan saya justru tidak baik untuk saya, bahkan mungkin merugikan orang lain. Jadi saya berdoa yang netral-netral saja, saya minta Tuhan mengampuni dosa-dosa saya dan memberi saya yang terbaik.

Kemudian saya coba memahami arti bacaan yang tiap hari saya lantunkan, namun ternyata saya hanya tahu artinya samar-samar. Sedangkan menghafalkan doa-doa yang katanya 'terpilih', saya belum sanggup, karena panjang-panjang sekali. Lalu saya coba membaca dan menghafal arti tiga surat terakhir dalam kitab suci saya, kemudian termangu-mangu. Kenapa ya selama ini saya harus bingung memilih doa? Tiga surat terakhir itu sudah merupakan doa yang baik dengan inti: meminta segala sesuatu hanya pada-Nya dan berlindung pada-Nya dari segala sesuatu yang membahayakan di sekeliling saya. Mungkin selama ini saya hanya belum mencelupkan keyakinan yang sangat saat membaca semua doa itu. Saya belum percaya bahwa Dia mendengarkan semua doa dan permintaan saya. Saya belum percaya bahwa Dia akan memberi saya yang terbaik. Saya belum percaya Dia akan memberi perlindungan pada saya. Jadi semua hanya lewat saja. Ampuni saya ya Tuhan..

Dan ampuni saya, karena mungkin selama ini saya lebih percaya pada manusia lain, bukan pada-Mu. Manusia lain yang saya pikir bisa menolong, bisa memberi saya rasa aman, bisa mencintai saya setulus hati, bisa melindungi saya. Manusia yang katanya membutuhkan saya, yang tidak akan meninggalkan saya, yang akan sayang sama saya selamanya. Akhirnya... semua hanya bubar jalan.. Sedangkan Engkau, terus menerus menyapa, terus menerus mengurus dan melindungi, hingga saya sampai di titik untuk mempercayakan semua pada-Mu.. hanya pada-Mu.. Yang Maha Sempurna.. Yang Tak Pernah Mengingkari Perjanjian.. Kepada-Mu aku bersandar dan menyerahkan semuanya..

Tak Apa

25.5.10

Terus saja berputar di kepalaku
Terus saja menyakitiku dengan caramu
Tak apa.. Sungguh tak apa
Dengan begini, akan terus ada yang tertulis
Karena aku tak bisa berteriak lantang
Tak akan ada yang mendengar
Aku pasti ditentang
Jadi teruslah begini
Hingga tak ada lagi lembar yang bisa digambar
Tak ada baris yang bisa ditulis
Dan tak ada lagi halaman berisi kenangan
Sampai putih.. Sampai bersih
Sungguh tak apa..

AsiaAfrika

24.5.10

Pagi buta
Kabut merupa menjelmamu
Dan gedung-gedung tua menggemakan lagi jejak kita
Aku tahu kamu masih melewati jalan yang sama
Aromamu masih pekat di udara
Kegaduhan bercampur sunyi
Kita nikmati sendiri-sendiri
Mari menenang..
Wahai kau yang tak pernah datang
Biar gemuruh perlahan menghilang..

-Fajar 23410-

Ingin yang Enggan

20.5.10

Betapapun aku ingin memutar waktu
Enggan kembali ke masa itu
Terlalu biru
Biar saja berlalu

Get Hurt and Hurting

19.5.10

When someone that you love do you harm. You might forgive them. But you also might not. You are in a rage. You can't take anymore. You are in anger and looking for a shelter. Then you found he/she there. Someone that would like to stand by your side. Maybe they're truly and maybe they're just wanna be loved by you. Just the same like you. They hope to get some love.

But you.. You don't wanna stop getting hurt. You always place yourself as a victim. You don't go anywhere and using any reason as excuses for the abusive behavior, including using love, children, big family, honor, and promises. Then.. sooner or later, you'll treat someone who cares about you much, the same like your lover whom also the abuser treats you. How bad is it?

Would you protect yourself from being harmed? So, you don't make anyone else get hurt by you. Stop being abused and stop abusing. Would you? We all need peace and love on earth.

*It's been a while since the first time i want to post about this abusive thing. Some friend of mine get hurt in their relationship, with their romantic partner, and even with someone whom they called friend. Can we stop being in a position who get hurt almost all the time and start hurting others?*

Tentang Mati

Belakangan ada begitu banyak hal yang terjadi dan membuat saya dan beberapa teman dekat saya berpikir soal mati. Bahkan terlintas untuk mengambil pilihan itu, ketika kami merasa disakiti, diabaikan, ditinggalkan, dipaksa, tidak dimengerti, kesepian dan frustasi. Beruntung belum ada seorang pun dari kami yang berani mengambil keputusan untuk memotong nadi, menenggak racun serangga, menggantung diri, atau melompat dari ketinggian. Kami kesakitan? Ya! Kami lelah? Ya! Dan masih banyak lagi perasaan negatif lain yang menghinggapi kami. Cara yang kami ambil untuk mengatasinya beragam, ada yang memilih untuk larut dalam pekerjaan, ada yang memilih untuk bicara pada orang lain, diam, atau tak berhenti menulis. Dan beruntung hingga hari ini kami masih bernafas. Masih eksis di dunia maya. Masih pergi kerja. Masih melakukan hal-hal yang seharusnya kami lakukan. Meski kami berulang kali berteriak lelah, capek, benci. Kami juga menyakiti orang-orang di sekitar kami dan menggugat segalanya.

Kami dan mungkin orang-orang lain sempat memilih mati, karena mati terlihat lebih mudah, mengakhiri segalanya, termasuk penderitaan yang tak kunjung habis ini. Menderita karena dicampakkan dengan sebuah SMS, dibuai dan diperdaya dengan janji, ditinggalkan begitu saja. Hidup terlalu liar, tak tahu mengarah kemana. Mati itu pasti dan terlihat lebih 'jelas'. Mati fisik, mati rasa. Selamat tinggal masalah, selamat tinggal pengkhianat, selamat tinggal penjahat.

Namun sebelum memutuskan metode terbaik untuk mengakhiri semua masalah ini, saya sempat membuka Kitab Kehidupan dan menemukan penyejuk di dalamnya. Yang Maha berkata, "Janganlah engkau membunuh dirimu, sungguh Ia Maha Penyayang terhadapmu." Dan di satu malam, saya menemukan beberapa baris pencerahan lain. "Barang siapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya di dunia dan di akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit-langit, lalu menggantung diri, kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakiti hatinya." (QS. 22:15)

Saya bukan ahli tafsir. Tapi menurut pemahaman sederhana saya, menggantung diri alias bunuh diri ternyata tidak akan melenyapkan sakit hati. Yang terbayang, saya cuma akan jadi arwah gentayangan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dan mungkin hanya akan semakin sakit hati melihat semua yang saya tinggalkan, menerima fakta bahwa tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Kecuali mungkin menghantui orang-orang yang bikin saya sakit hati. Itu juga kalau bisa. Saya belum pernah mati. Tidak tahu setelah mati akan seperti apa. Jadi risikonya terlalu besar untuk coba-coba mati. Kalau hidup, saya sudah pernah, minimal saya tahu harus melakukan apa. Misalnya terus coba bernafas, meskipun sakit, perih, benci, kesal, gundah gulana, frustasi sembari memohon pertolongan-Nya. Masih terlalu dini untuk mati.

Cukup untuk Luka

17.5.10

Satu sore.. aku memanggil-manggilnya. Tak ada suara. Tak ada jawaban. Ku kelilingi rumah dan memeriksa tiap sudut. Dia tak ada. Hanya tinggal satu ruangan yang belum ku datangi. Dan ku temukan ia di sana. Di lantai. Tengkurap dan terisak. Ku tanya, "Ada apa?" Dia sudah tak bisa bicara. Aku sudah tahu jawabnya. "Lepaskan saja dia!" hatiku berbisik.
Tak usahlah berkubang duka, jika dia hanya memberimu luka..

A part of the mistake

Dan di satu titik aku hanya harus menerima
bahwa aku hanya bagian dari sebuah kesalahan
yang tidak terhindarkan
yang bukan kewajaran
yang tidak akan mendapat penerimaan

Dan aku hanya ingin bersuara
bahwa dalam kesalahan ini
aku sudah mencoba bertahan
menumbuhkan harapan
dan berucap dalam diam
memohon keajaiban

Dan dalam semua untaian doaku
aku hanya mampu meminta kebaikan
yang datang tak lama setelah aku bersimpuh
sekarang aku berderai di dalamnya
namun tak jua mampu mengungkap
apa yang sebenarnya aku ingin pinta

Dan yang terus terlantun hanya permohonan akan kebaikan
tanpa aku tahu kebaikan itu akan berwujud apa
aku menyerahkan semua di "tangan-Nya"
karena aku tak ingin
sebuah permintaan hanya berujung pada kesalahan yang lain..

-12410-

In memoriam..

Kehilangan mengakrabimu teman
Satu demi satu
Ia tak lelah menghampirimu
Sementara aku
Masih menikmati sisa-sisa yang tertinggal
dan terus mengunyah..
Seolah-olah lidah masih mampu mengecapnya

-12410-

Mauku

Maaf..
Jika aku mulai berpikir bahwa cinta itu bukan beriba-iba padamu
Aku tahu kamu tak pernah peduli
Meski aku memohon dan meratap, kau bergeming
Aku tak mau lagi memaksa lalu menangis sendiri
Tanpa kau sedikit pun peduli
Aku tetap bertahan pada cinta yang tidak beriba-iba
Yang sama-sama kita butuhkan adalah penghargaan yang lahirkan rasa aman
Bukan makian
Bukan ancaman
Bukan kebohongan
Bukan manis yang penuh kepalsuan

-510-
*Untuk teman-teman yang masih beriba-iba, meratap dan terinjak, berdiri dan tegarlah*

Terima Kasih

Menapaki jejak..
Tak lagi sesak
Hanya nyata kau tampak

Menatap pelukan hangat
Kemudian mengingat lingkaran lenganmu di bahuku
Terima kasih untuk itu

-16510-

Craving for Changes

15.5.10

Not many people can be satisfied with what all they have. We all need a little changes at least. We want to move. Moving from this point to a better point (we thought).
We thought, it would be better, if a single lady have a partner. Then from the simple partnership, they move to one stable relationship, marriage. Then they're having a child, then children. Then they feel that they need to move to a house of their own. Then they need a bigger house. They also need a vehicle, at least motorcycle, then they need automobile. Then they have to send the kids to the school, then universities. They also need to pay for many holidays. Then their children are growing older, then mom and dad should paying for their wedding party. Ohhh.. how can we stop for just a moment? There might be 'a standard of living' or others called 'normal life'. But the fact is life not always same or equal for all of us. And most of us busy craving for changes, in order to be 'normal'. By the way, what is normal? Born - school - university - get job - get married - having children - growing older - having grandchild - pension - and die? That's normal?
There are my friends who passed away when they're still teenager. My idol died because of illness, while he hasn't had a son/daughter yet. One of my grandmother died, and she didn't have husband and kids. Normal not always means having all we want or through the same way like others.
This life treats us in so many different ways! And God has particular faith for everyone of us. And we don't need exactly the same thing at the same time, like other people.
So why can't we just relax? Take a deep breath.. inhale.. exhale.. We're living for today and it's good to prepare for the future whether it might be the same or different from others. Hope and pray for the best, and have some faith. There'll be time for everything for everyone. And what's making others happy not always make us happy too. Don't let our fear for the future kill us today.
Everybody wants to move, but there are always some points where we just have to stay for a while.. for days..weeks..months..and maybe years..

Life and Mistery

This is life, where i found love. Then it turned to misery and left the pain, which i really hope can be healed by times. And let me hope it will turn to something good. Though i don't know, until when it will be just a mistery, for me and you..
Dear God.. will You let us be in a position that You'd bless?

Half-Birthday

13.5.10

Black motorcycle.. The 'funky funky' sticker
Remind me of you.. twin brother
I still wanna hear your voice on air
But all i can say
Rest in peace dear you
Today is our 'half-year' birthday
I hope you understand what i mean
And i hope the internet also can be accessed from 'other' world

Masih Bersama Andai


Ada saat menatap hangat penuh cinta
Kemudian...
Berseberangan, palingkan muka penuh dendam
Andaikan ada keabadian
Aku masih memilihmu.. teman..

Calling God

11.5.10

Dear God..
Where are you, when human trying to commit suicide?
If all the goods come from You
and all the bad just because of us
Can't You prevent us from the bad?
In Your rules.. seems like there's no place for the bad guy
So where should i stand anyway?
Thank You
I'm waiting for the answers
Bye..

God Answers:
Don't ever kill yourself, coz I really love you
If you want me to prevent you from the bad, always remember me, keep hoping and praying, i won't let you lost alone..


*i'm sorry God, i just think that you've sent us this mail by The Prophet*

Walking after You


"Lend the title of one my favorite song from Foo Fighter"

When i told you that i begin to like you
You talked about taking as much as you can
When i questioned where to go
You told me that you'll love me however n forever
When i was thinking about quitting this game
You asked a little more time
When i talked about love and promises to take care of you forever
You said sorry then goodbye
Still.. i'm the one who walking after you

-11510-

Pahit

10.5.10

Tak beranjak dari pembaringan, lelah dan penat. Mataku sembap, rupanya menangis dalam tidur. Akan berbuat apa kau hari ini 'Si Hebat'? Ayo tunjukkan pada dunia kalau kau memang dahsyat. Otakmu brilian, sikapmu elegan. Tak usah pentingkan kehadiran orang lain. Tapi ternyata mengangkat kepala pun aku sulit. Mendadak sakit kepala datang menghampiri. Suhu tubuhku meninggi dan aku mulai menggigil. Sesaat aku terdiam, menganalisa diriku sendiri. Hingga hampir tengah hari, aku tak beranjak dari tempat yang sama. Menahan gengsi dan harga diri. Tapi rupanya tubuhku tak mau kompromi. Aku menyerah dan perlahan meraba-raba sisi tempat tidur mencari telepon genggam. 'Si Hebat' harus menghubungi seseorang. Ketemu! Ku buka tombol kunci di ponsel itu. Setelahnya bimbang.. "Siapa yang harus ku hubungi?" bergumam dalam hati. Sepuluh menit bertahan dan akhirnya menyerah. Ku pijit nomormu. Terdengar suara di seberang sana, "Maaf nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif." Sial! Aku berpikir, "Siapa lagi yang bisa aku hubungi?"

Tak lama terdengar dering panggilan telepon. Ku angkat ponselku dan sebuah teriakan mengejutkanku. "Bodoh.. lo putus? John baru telfon gw, dia bilang mau nikah dua hari lagi. Tetapi bukan sama lo."

.....Ngiiiiiinnngggggg.....
Lalu, cuma ada sunyi yang panjang.....

-around08-

Crystal Ball


I'm crying not because of you
But i'm crying coz i gave you my heart.. and it's hard to take it back..
In your hand, I'm just like a crystal ball
Pretty to be looking at, so fragile on the other side
So tell me, what the crystal ball used to tell you, what kind of future.. dear psychic?
Coz now.. I'm just like a broken glass
If only.. in the end i could die in your hand

When you're so desperate, you got no choices
Byebye blackbird..
"Public Enemies" -9510-

Menyangkal

Kamu tahu, saat sedang jatuh cinta, aku nyaris melakukan apa saja. Termasuk mengabaikan semua fakta dan tanda yang dijejalkan ke depan mataku, dikirim ke otakku dan mengaktifkan alarm bahayaku. Bahkan aku bersedia masuk 'kandang singa', demi kamu yang aku rasa sangat berharga.

Aku menyangkal semua fakta bahwa kamu tidak menempatkanku dimana pun. Bahwa dalam setiap argumentasi yang kamu butuhkan hanya kemenangan. Bahwa dalam pembicaraan tentang masa depan yang kita lakukan hanya membekukan waktu, lalu mengharu biru.

Dan kini aku memetik buah demi buah penyangkalan, dari benih yang pernah aku tanam. Benih itu telah berubah menjadi tanaman berdaun rindang. Tiap helai daun dan buahnya
merupakan perwujudan penyangkalan akan kejujuran, rasa sayang, fakta, harapan, juga kita..

*Kita yang akhirnya menyangkal dan disangkal*
-Between 3-410-

Save Yourself!

8.5.10


Kita hidup di hutan rimba. Kita ini pemakan sesama. Terlalu naif mengharap seseorang akan datang menyelamatkan kita dan membawa kita jauh dari marabahaya. Pangeran berkuda putih tidak lewat setiap malam. Dan jika pun ada, terlalu banyak yang harus ia selamatkan. Lalu kenapa harus menunggu ia datang? Kenapa tidak kita saja yang mulai mencari kuda untuk tunggangan, memakai baju besi, memilih senjata, berlatih bertahan dan belajar bertarung? Supaya bukan kita yang jadi korban dan biar ada yang bisa kita selamatkan. Tentunya, jika ia ingin diselamatkan. Jika tidak, biar ia yang tentukan pilihan dan kita tidak perlu menjadi yang terluka dan terlupakan..

*Even the lovely one do you harm*

Our Strong Little Girl


Usianya belum genap lima, saat menjalani serangkaian ujian hidup. Berkenalan dengan pria dan wanita yang selalu berbaju putih, bau antibiotik, jarum suntik, selang infus, selang oksigen dan segala pantangan yang katanya demi kesehatan.
Tapi Indira tetap tenang, tak banyak bicara, meski tergolek lemah dan pasrah kapan saja petugas berbaju putih mengambil sampel darahnya. Ia hanya sesekali minta didudukkan, karena sudah jengah berbaring. Ketika sudah diperbolehkan makan dan ditanya mau makan apa, ia menjawab "Mau ayam KFC." Mendengar jawabannya saya tersenyum. Ada perasaan campur aduk saat menatapnya. Saya salut!! Gadis ini kuat..
Indira adalah keponakan dari sahabat saya. Ia didiagnosis mengidap leukemia. Tak ada riwayat penyakit ini dalam keluarga. Sebelumnya Indira hanya pernah terkena malaria. Tidak ada penjelasan yang komprehensif untuk pertanyaan "Kenapa ini bisa terjadi pada Indira?"
Saya hanya satu kali bertemu Indira, itupun di rumah sakit, tepatnya 6 April 2010. Ia tidak tampak seperti anak-anak dengan penyakit berat. Sedikit sekali mengeluh, walaupun ruangan anak di rumah sakit itu jauh dari nyaman, cenderung pengap. Titik-titik bekas jarum suntik nyata di bagian tangan dan kakinya, karena ia harus diambil darahnya secara periodik, untuk mengetahui perkembangan kadar eritrosit, trombosit dan leukosit dalam tubuhnya.
Untuk seorang anak dengan penyakit berat, Indira tidak pernah mengeluh lebih dari keluhan-keluhan orang yang masuk angin. Meski kami juga tidak pernah tahu apa yang sebenar-benarnya ia rasakan.
Kami tidak bisa menanyakan apa yang sebenarnya Indira inginkan. Tapi pada suatu hari gadis cantik ini pernah bicara tentang "pulang". Kepada ibunya, ia mengutarakan pemahamannya tentang Tuhan. Ia menanyakan tentang surga. Ia menyatakan bahwa semua adalah milik Tuhan. Ia jiwa yang tenang. Ia tahu kemana akan pulang. Di antara keinginan dan kepasrahan, doa yang terlantun dari sahabat saya adalah semoga gadis kecil ini sembuh dan mendapatkan yang terbaik dari-Nya.
Usai menjenguk Indira, saya dan sahabat saya pergi makan siang di sebuah restoran cepat saji. Kebetulan.. saat itu pihak restoran sedang menyiapkan acara ulang tahun bagi seorang anak. Saat kami melihat papan ucapan selamat ulang tahun, ternyata yang akan berpesta adalah seorang gadis kecil lain yang juga bernama Indira. Dan kebetulan pula tak lama lagi Indira kami juga akan berulang tahun. Tuhan seringkali menciptakan "kebetulan" yang direncankan. Saat itu kami hanya berharap Indira dapat merayakan ulang tahunnya yang kelima dalam keadaan yang lebih baik.
Tak berapa lama dari hari saya menjenguknya, Indira meminta pulang. Namun dokter belum membolehkan, karena suhu tubuhnya masih tinggi dan ada bercak-bercak di tubuhnya. Namun akhirnya Indira diperbolehkan pulang. Sesampainya di rumah, kondisi Indira jauh membaik, panasnya turun dan bercak-bercak di tubuhnya menghilang. Hari-harinya di rumah ia habiskan bersama adiknya. Salah satu alasannya ingin pulang juga karena kangen pada adik semata wayangnya.
Setelah beberapa hari di rumah, kondisi Indira kembali menurun, tanggal 18 April ia kembali dibawa ke rumah sakit setelah menjalani pengobatan alternatif. Indira sempat menginap semalam di rumah sakit dan rencananya akan mendapat transfusi di pagi hari. Namun ternyata tubuhnya sudah menolak transfusi. Yang Maha Penyayang rupanya sudah menginginkannya "pulang"..
Kaget dan kehilangan. Itulah perasaan yang mewarnai pagi itu, setelah sahabat saya menelfon dan memberi tahu kondisi terakhir Indira. Meski mungkin inilah jalan terbaik yang diberikan Tuhan, bukan hanya untuk Indira, juga untuk semua yang pernah mengenalnya.
Kepergian Indira semakin membuat saya yakin, bahwa semua orang punya waktu untuk pulang. Dan pada saat waktu itu tiba, apakah sudah tahu arah kemana kita akan menuju? Apakah kita bisa bercerita tentang Tuhan dan surga selancar cerita Indira?

Rest in peace Our Lovely Indira. You have won a battle called life and you know where to go next. We hope we can see you high up above..

Indira P. Aulia (2005 - 19 April 2010)
My best friend's (Kania Dewi Natalia) niece

More about Indira
http://littlemebigme.blogspot.com/2010/05/end-of-battle.html

*In the few last months, i met two persons once in my life time, but it seems that they teached me about life. Ironically, i can't meet both of them in this life again. I just can say, "Rest in Peace. C U high up above."

@Kania.. thanks banget buat fotonya.. :)

Relieve

7.5.10


Akhirnya kau mau keluar juga wahai titik-titik bening. Setelah lama kau enggan mengalir. Pagi ini, meski tak deras dan diawali pedih yang sangat, kau mau jatuh ke bumi. Meski kita sama-sama tidak tahu untuk apa butir-butir bening itu, kita keluarkan saja ya. Mudah-mudahan menyembuhkan luka yang masih sedikit menganga. Tak usahlah kita berpikir bahwa dia yang di sana sedang mengingat kita, meski beberapa detik saja. Toh kita tak pernah tahu mana yang nyata, kamuflase atau dusta. Kita jatuhkan saja bening-bening yang di dalamnya ada cinta. Bukan untuk dia. Tapi untuk kita. Untuk segala kenangan, sedih, pedih, iba, suka cita dan cinta yang belum mau berkelana.
Terimakasih untuk datang, singgah, pergi, kembali, mati...

*Astrid - Tentang Rasa*

Pulang..

6.5.10


Oh.. great finally i'm home!!
Setelah berhari-berhari pergi akhirnya tiba saatnya pulang. Harusnya senang, harusnya tenang. Tapi sejak beberapa puluh kilo sebelum pulang, galaunya datang lagi. Sampai di rumah perasaan sedikit membaik. Setelah diselingi tidur beberapa jam hingga pagi, harus bangun dengan perasaan sedikit lelah, membereskan ini dan itu hingga terlambat berangkat.
Dan kini saya menatapi layar monitor dan belum mengerjakan apapun yang seharusnya saya kerjakan. Dan dalam hati berkata, "Badainya datang lagi! Sial!"
Ini yang saya tidak saya sukai dari pulang. Saya harus menghadapi suasana menyenangkan sekaligus kompleks yang harus diterima satu paket. Sekarang saya masih lebih memilih untuk pergi saja, sedapat mungkin, sejauh mungkin. Saya tidak mau kepala ini pecah. Saya belum bisa meniadakannya. Belum tahu kapan akan bisa meniadakannya. Melihat dan mendengar bisa jadi siksaan yang luar biasa..
Meski merasa ingin mati belum tentu berarti akan mati dalam waktu dekat..

Menenang

2.5.10


Akhirnya datang, saat dimana aku bisa mengambil seribu langkah meski jauh dari kekal. Udara hangat, pesisir pantai, aroma laut, amisnya ikan, hitamnya kulit walau belum legam.. sungguh aku menikmatinya. Tarikan nafas mulai ringan, gemuruh dalam dada mulai reda dan perih meluntur dengan sendirinya. Meski sesak masih singgah, namun menepisnya tak sesulit sedia kala. Tuhan memberikan kesempatan, memaafkan, lalu menyembuhkan.
Meski wajah-wajah asing sesekali menggoda dengan menyerupaimu dan segala hal yang lekat denganmu, namun mirisnya tak seperti dulu (beberapa minggu yang lalu). Ijinkan aku menyebutnya dulu, karena semua yang berhubungan denganmu memang dahulu kala.. purba..
Aku tak ingin mengusirmu, aku tak juga menendang apapun keluar dari kepalaku, atau menarik paksa semua yang seharusnya dibumihanguskan aja. Aku percaya ada masa, aku percaya ada ratusan kilo yang terhampar dan aku percaya masih ada cinta yang akan menyapa dalam cara yang tak pernah terbayang sebelumnya.
Tiap kali aku membisikkan penerimaan, memadamkan pemberontakan, sungguh tenang itu masih ada, meskipun kita sudah lama hampa. Kau mungkin sudah menang, sekarang waktunya aku menenang...

Dermayu -2510- night