Sewaktu saya SMA, banyak teman-teman yang mulai "tercerahkan" dalam hal agama. Mereka semakin sering berdiam di masjid, mulai menutup aurat untuk yang perempuan dan membatasi interaksi dengan lawan jenis untuk golongan yang kerap disebut dan menyebut dirinya akhwat dan ikhwan. Sementara waktu itu saya sedang asyik-asyiknya bergaul ke sana ke mari dan sering merasa mereka diskriminatif dan menghakimi pada orang-orang yang bukan golongannya. Tapi sekarang saya bisa memahami, semua mungkin karena keterbatasan kami para remaja untuk menyampaikan kebenaran dan nilai-nilai yang kita yakini tanpa intimidasi dan penghakiman. Mungkin juga karena saat itu, segala yang diungkapkan hanya berupa ancaman dan hukuman, jika kita tidak begini dan begitu. Maka semua menjadi tidak menarik dan cenderung menakutkan.
Tahun-tahun berlalu dan saya masih asyik dengan dunia saya dan mereka dengan dunia mereka. Saat mereka lantang melarang pacaran, saya masih asyik naksir kanan-kiri dan pacaran dengan beberapa orang, yang kebanyakan berakhir duka cita ala remaja.
Dalam psikologi populer, masa remaja memang saatnya untuk mulai mengenal dan berinteraksi dengan lawan jenis dalam relasi yang mengarah pada hubungan romantik dan (mungkin) pengalaman ini bisa menjadi dasar relasi mereka untuk menjalani sebuah komitmen pernikahan pada suatu hari nanti. Tapi apakah doktrin ini benar? (Sepertinya tidak sepenuhnya benar)
Memang beberapa pengalaman jatuh bangun patah hati memberikan pelajaran luar biasa, dan membuat kita jadi lebih kuat. Tapi mungkin tidak cukup sepadan dengan luka menganga yang meski sembuh, bekasnya terus saja ada dan banyaknya waktu yang terbuang percuma, demi mempertahankan relasi semu, yang cepat atau lambat berakhir juga. Mungkin beberapa cerita di sini bisa menjadi sedikit gambaran akan kesia-siaan akibat pacaran saat remaja dan jatuh-bangun patah hati.
Waktu itu saya baru masuk SMP dan beberapa bulan setelahnya ada seorang kakak kelas yang ingin berkenalan dengan mengajak segerombolan teman-temannya ke kelas saya. Singkat cerita kami berkenalan dan beberapa minggu kemudian "jadian". Seperti remaja lainnya, kami sering bertelefon dan dia sering main ke rumah, atau sekadar mengajak ngobrol di sekolah. Maklum waktu itu belum ada hape online yang bisa dipakai sms, chatting, friendster, facebook. Setahun berlalu dan tiba-tiba lahirlah keputusan darinya untuk mengakhiri masa "jadian", dengan alasan saya tidak pernah bisa keluar rumah untuk sekadar menonton bioskop. Memang waktu itu saya tidak diijinkan orang tua untuk keluar rumah dengan alasan-alasan semacam itu. Dan diputuskanlah saya. Setelah proses tidak terima, marah-marah, sedih, menangis berhari-hari dan berjanji dalam hati untuk tidak akan menerimanya kembali dan menghindari melihat mukanya lagi. Saya akhirnya berhasil melewati proses itu dengan segala kekonyolannya.
Apakah semua berhenti sampai di situ? Oh tentu saja tidak.. Saya kembali menjalani hubungan pacaran karena "ditembak" atau dijodoh-jodohkan oleh teman-teman, yang kembali berakhir karena pacar saya selingkuh, lalu karena ternyata perasaannya mentok dan hilang. Belum terpikir untuk berhenti saja deh "jadian-jadian", karena mungkin kayaknya ga keren kalo ga punya pacar. Di masa-masa ga punya pacar, saya naksir kakak kelas saya setengah mati, yang sialnya merhatiin saya pun engga.
Wah pokoknya di masa itu, berminggu-minggu dan berbulan-bulan di hari-hari tertentu air mata saya tumpah karena kecewa putus cinta, karena diselingkuhin, karena kecengan saya gak sedikit pun peduli. Dan semua hal itu berpengaruh ke mood saya. Saya jadi susah merhatiin pelajaran, jadi gak fokus sama hal-hal yang lebih bisa saya handle, dibanding ngurusin pacar. Tapi semua ya sudah berlalu dan cukup jadi cerminan betapa pacaran saat kita ABG begitu menghabiskan perasaan, air mata, energi, yang sebenarnya bisa kita salurkan ke hal lain yang lebih berguna buat diri sendiri, keluarga dan sahabat yang benar-benar tulus. Juga untuk masa depan. Bukan untuk pertengkaran dalam pacaran yang kerap kali terjadi, karena menyatukan dua orang yang berbeda toh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Waktu juga habis untuk komunikasi dengan ber-sms, chatting, atau telefon selama berjam-jam tanpa arah, yang mungkin akan lebih berguna untuk bantu mama di rumah atau untuk les hal-hal yang kita suka, dan uang pulsanya bisa ditabung.
Tapi sebagai remaja, tentu kita selalu ingin mencoba hal-hal baru dan menentang semua nasehat orang yang lebih tua. Karena kita pikir, toh ini hidup saya dan mereka semua tidak mengerti. Tapi ada hukum universal yang berlaku sejak dahulu kala dan sulit untuk kita lawan dan betapa nasehat-nasehat orang tua baru akan bisa kita terima di waktu kritis, saat kita menerima akibat kebandelan kita. Dan barulah saat itu kita sadar kesalahan dan kesia-siaan yang kita perbuat.
Jarang sekali ada yang bisa mempertahankan sebuah hubungan yang terjalin sejak awal masa remaja hingga ke sebuah komitmen pernikahan. Karena kita akan cenderung bosan dan mungkin juga kelelahan untuk menjalani hubungan dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, saat hidup kita masih penuh warna-warni, ketidakstabilan dan hal-hal baru masih datang silih berganti.
Jadi pasti akan sulit menjawab pertanyaan seperti yang ada dalam lagu yang sedang "in" saat ini.. "Mau dibawa kemana hubungan kita? " :D Mungkin ada yang yakin, bahwa hubungannya akan sampai ke pernikahan. Mungkin ada yang diam, karena sebenarnya ia ragu-ragu atau bahkan tidak tahu mau kemana. Hanya senang-senang saja.
Semua ada waktunya. Kelak saat kita sudah jadi pribadi yang matang, dan punya kualitas positif yang kita dapat sepanjang perjalanan hidup, dalam kesendirian, tanpa "pacaran" yang cuma banyak mengundang bahaya dan menghabiskan tenaga, akan ada seseorang yang tepat untuk kita. Saat kita sudah benar-benar dewasa dan bisa bertanggung jawab untuk hal-hal lain di luar diri kita. Untuk membina hubungan yang bermakna untuk diri, keluarga dan yang paling penting tidak melanggar agama.
(Bersambung ya..)
Belajar, Tumbuh, dan Berproses
6 tahun yang lalu
2 comments:
sambungannya mana ping? ^^
aku jadi malu baca tulisanmu. dulu aku ada di barisan akhwat2 itu. tapi sekali terlibat dengan lelaki, aku kini terlalu takut untuk mulai yang baru. meski itu untuk sebuah pernikahan. hmmm :)
Beluum ada tatsu.. tadinya ini buat adik2 ABEGE.. cuma belum kepikiran lagi.. mau nulis part yg mana.. hehehe.. Laki2 = masalah kompleks :D
Posting Komentar