Belajar dari Pesisir

29.4.10

West Java, North Coast
Saya sedang di Karawang, di pesisir pantai, mengunjungi tambak-tambak yang beresiko tinggi gagal panen, karena berbagai permasalahan. Udaranya tentu saja panas, tapi seafoodnya sedaaap! Sebanding sama panasnya.
Sayang..ada sedikit gangguan di pikiran saya, yang saya tinggalkan di satu kota, untuk satu kenangan yang belum berhasil saya hentikan pemutarannya dalam kepala. Dan ia sering tiba-tiba menghampiri. Meninggalkan kekosongan yang terus saya coba isi. Saat dia datang, saya merasa sangat sulit untuk merasa beruntung. Lalu alam mengajarkan pada saya dengan caranya. Betapa Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk saya. Dan sebaiknya saya berhenti protes sekarang juga.
Di sisi kanan jalan, tepat di bibir pantai, saya melihat rumah-rumah yang mulai terkena abrasi. Beberapa malah sudah berbentuk panggung dan akrab sekali dengan gelombang. Rumah-rumah ini beratap rendah dan dindingnya terbuat dari geribik- geribik bercelah yang sukarela membiarkan angin menembusnya. Sangat jauh dari kesan mewah. Daerah ini tepatnya bernama Pisangan, yang masih masuk wilayah Kabupaten Karawang. Di sini masyarakatnya heterogen, terdiri dari beragam etnis dan kepercayaan. Ada masjid, gereja, juga wihara. Babi berkeliaran juga hal yang biasa. Menurut salah seorang warga yaang bernama Kim Yun, laut sudah menggerus daratan sejauh 2 km dan daerah yang kini sudah jadi pantai, dahulu bekas kebun pisang, karena itu namanya Pisangan.
Suasana di daerah itu agak suram, entah karena sudah sore saat saya datang atau memang selalu seperti itu. Memandang ke utara hanya ada lautan dan ke selatan tambak-tambak bertebaran.
Soal air, tak terbantahkan lagi..payau!! Rasanya asin dan meninggalkan rasa lengket pada kulit. Tapi mereka bertahan, meski mungkin dengan sejuta harapan dan angan-angan di kepala. Harapan tambak udangnya berhasil, tidak gagal melulu dan membuat mereka bangkrut. Karena jumlah modal usaha tambak cukup fantastis dengan risiko yang tinggi, khususnya untuk udang, sehingga kala merugi bisa membuat petambak kehilangan lahannya, apalagi jika mereka terkait utang-piutang dengan sistem ijon.
Dan akhirnya saya teringat kasur empuk, selimut hangat, air bersih dan udara sejuk yang jauhnya ratusan kilo dari sini dan semua itu bisa saya nikmati setiap hari.
Baiklah, tampaknya ini waktu yang tepat untuk menghentikan protes. Bahwa hidup itu keras, tak terbantahkan. Bahwa bersyukur itu menambah nikmat, perlu diyakini..

-290410-

0 comments:

Posting Komentar