Belum mengarah pada siapa-siapa dan harusnya tak mengapa. Aku ingin jadi seseorang yang utuh sebelum membelah diri. Aku belum merasakan keinginan, kebutuhan atau ketergantungan pada lelaki mana pun. Sejujurnya beberapa dari mereka malah membuat aku muak. Mereka mengarah entah ke mana dan melakukan sesuatu tanpa dasar logika. "Aku melakukannya karena aku ingin. Itu saja!" Ohh.. itu jawaban yang sangat tidak menenangkan tuan.
Mari kita bicara sebagai dua orang dewasa. Kita ini siapa.. berdiri dimana.. mau kemana? Jika memang ingin berteman, mari kita berteman. Jika ingin bersahabat, mari kita bersahabat. Tapi jika nanti berkembang jadi asmara bagaimana? Tolong jangan kau katakan, "Gimana nanti aja!" Mari ingat lagi kita siapa dan berdiri dimana. Tolong jangan kotori sebuah pertemanan atau persahabatan dengan cinta yang buta dan akhirnya membakar semuanya. Ingat! Kita ini sudah dewasa..
Jika memang cinta itu kemudian ada, mari kita kembali bicara. Kita akan bagaimana? Aku lebih suka kita kembali ke titik awal atau berjalan dalam arah yang benar-benar berlawanan. Jika masih memaksa, tolong lakukan yang terbaik untuk kita berdua. Jika tetap memaksa, aku akan bicara lebih lantang, kemudian turun gelanggang. Karena aku tahu.. saat kau memaksa, sebenarnya kau tak punya rencana apa-apa. Kau hanya tak mau ditinggalkan, sendirian, merana dalam kehangatan yang kau maknakan sebagai paksaan, siksaan, ancaman dan kesepian. Aku mohon.. Sadarlah tuan..
*Tak usah memaksa jika kita tak tahu akan kemana..
Belajar, Tumbuh, dan Berproses
6 tahun yang lalu
0 comments:
Posting Komentar