Dari situlah semua berawal. Saat kita sama-sama menikmati "Bumi Manusia" dan mabuk dengan manisnya cinta Minke dan Annelis Mellema (maaf jika aku salah eja). Hingga kita lekat dengan kalimat "Ik verlang zo erg naar jou". Saat bicara soal rindu yang membuncah dan berbanding lurus dengan tenggelamnya logika. Kau bahkan sempat bertanya di suatu hari dengan bahasa Pram, "Apakah aku pergi bersama Darsam?" Kau minta aku berhati-hati dan aku terus menghubungimu di hari itu. Kau tahu, akan ku catat itu sebagai kenangan manis kita berdua.
Tapi kita tahu, Pramoedya tak menulis kisah bahagia, seperti juga cerita kita. Dalam "Anak Semua Bangsa", Minke dan Ann mulai berderai air mata. Hingga mereka dipisahkan oleh anak manusia yang tak peduli arti cinta. Tak ada yang bisa dilakukan. Ann hanya menunggu waktunya tiba. Semua tak kan pernah sama, seperti saat ia ada berada dalam pelukanmu Minke.
Ann menyerah. Ia memilih untuk menghembuskan nafas terakhirnya. Dan kau Minke.. terus menjejak dan melangkah, hingga kau bertemu gadis Tionghoa, hidup bersamanya dan kembali merana saat penyakit menggerogoti tubuhnya. Ia wafat. Lagi-lagi kau berhadapan dengan kuasa takdir.
Setelah beberapa waktu, aku dan kau tak lagi sanggup meneruskan membaca "Rumah Kaca". Karena di sana tak ada lagi kita. Kita sudah selesai! Kita sudah memutuskan untuk berhenti di "Jejak Langkah". Tepat seperti kita saat ini, melangkah berlawanan arah. Kita cuma dua manusia yang berjalan di atas bumi, menjadi anak bangsa, meninggalkan jejak dan terus melangkah.
Terlalu rumit untuk bicara cinta. Kini masih tersisa dan terucap "Ik verlang zo erg naar jou".. di sela hari dan nafas yang berhembus..
*Mari bicara dalam bahasa kita berdua..
Belajar, Tumbuh, dan Berproses
6 tahun yang lalu
0 comments:
Posting Komentar