skip to main |
skip to sidebar
at
20:17
Aku belum tahu harus memulai cerita ini bagaimana. Aku hanya merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian, yang akhirnya buatku susah untuk melangkah. Mengapa tiba-tiba nyaliku menciut? Mengapa aku tiba-tiba takut? Mungkinkah ini yang terjadi padamu dahulu? Kapankah kita teryakinkan? Mengapa justru perasaan yang muncul adalah "Aku melawan dunia". Lalu langkah kita menyurut..
Sore ini rasanya kecut dan aku merasa seperti pengecut...
at
16:27
Saat aku tak merasa apa-apa.. Kata-kata seperti bergema tanpa makna.. Lebih baik aku diam dan merenung sejenak. Semoga nanti ada yang terasa..
*Saat aku tak tahu judulnya apa, biarkan jadi bintang-bintang saja...
at
15:37
Hari ini, aku ini bertanya.. Apakah gedung-gedung tua menggemakan jejakku padamu? Bagaimana dengan angin, apakah semilirnya masih menyisakan bauku? Saat gerimis, masihkah ia berbisik padamu layaknya aku?
Aku berharap masih bersemayam di kepalamu...
*AsiaAfrika part-2
at
14:31
Rindu datang lagi dan aku berujar, "Ik verlang zo erg naar jou." Dan saat gerimis turun, aku menyebutnya, "Salju!" Kita tak pernah berhenti bicara satu sama lain rupanya.
Aku yakin kau tahu, kau adalah sesuatu untukku. Yang ku ingat dalam bahagia dan pilu. Yang ku lihat dalam nyata, juga sebagai bayangan saja. Yang ku genggam, ku lepaskan, ku dekap dan ku ikhlaskan.
Semoga Tuhan mendengar doa kita..
at
19:45
What if i answer. And what if i say, "I miss you." My prediction, you would still say sorry then goodbye. Still i'm the one who should fight this loneliness..
at
16:47
Aku takut, untuk menjawab sapamu. Aku takut, semua cuma jebakan atau semua cuma awal yang lagi-lagi akan berakhir pada sebuah permintaan. Kau sesungguhnya tak benar-benar ingin tahu kabarku. Kau hanya ingin aku menyingkir sejauh mungkin dari hidupmu. Agar kau tenang.. Kau aman..
Sejak awal ini semua bukan tentang kita, apalagi tentang aku. Ini semua tentangmu.. yang harus ku mengerti, ku sayangi dan kemudian kau tinggal pergi. Tahukah kau, aku ini manusia yang punya hati. Tolong jangan sakiti aku lagi..
at
22:13
Dari situlah semua berawal. Saat kita sama-sama menikmati "Bumi Manusia" dan mabuk dengan manisnya cinta Minke dan Annelis Mellema (maaf jika aku salah eja). Hingga kita lekat dengan kalimat "Ik verlang zo erg naar jou". Saat bicara soal rindu yang membuncah dan berbanding lurus dengan tenggelamnya logika. Kau bahkan sempat bertanya di suatu hari dengan bahasa Pram, "Apakah aku pergi bersama Darsam?" Kau minta aku berhati-hati dan aku terus menghubungimu di hari itu. Kau tahu, akan ku catat itu sebagai kenangan manis kita berdua.
Tapi kita tahu, Pramoedya tak menulis kisah bahagia, seperti juga cerita kita. Dalam "Anak Semua Bangsa", Minke dan Ann mulai berderai air mata. Hingga mereka dipisahkan oleh anak manusia yang tak peduli arti cinta. Tak ada yang bisa dilakukan. Ann hanya menunggu waktunya tiba. Semua tak kan pernah sama, seperti saat ia ada berada dalam pelukanmu Minke.
Ann menyerah. Ia memilih untuk menghembuskan nafas terakhirnya. Dan kau Minke.. terus menjejak dan melangkah, hingga kau bertemu gadis Tionghoa, hidup bersamanya dan kembali merana saat penyakit menggerogoti tubuhnya. Ia wafat. Lagi-lagi kau berhadapan dengan kuasa takdir.
Setelah beberapa waktu, aku dan kau tak lagi sanggup meneruskan membaca "Rumah Kaca". Karena di sana tak ada lagi kita. Kita sudah selesai! Kita sudah memutuskan untuk berhenti di "Jejak Langkah". Tepat seperti kita saat ini, melangkah berlawanan arah. Kita cuma dua manusia yang berjalan di atas bumi, menjadi anak bangsa, meninggalkan jejak dan terus melangkah.
Terlalu rumit untuk bicara cinta. Kini masih tersisa dan terucap "Ik verlang zo erg naar jou".. di sela hari dan nafas yang berhembus..
*Mari bicara dalam bahasa kita berdua..
at
01:05
Sudah hampir tengah malam dan mata belum juga terpejam. Sudah hampir sembilan bulan, tapi terus saja berlinang air mata. Mengapa terus saja aku peduli dan cemas untukmu yang menyingkirkanku dengan mudah dari jalan hidupmu. Dan tak cukup dengan itu, kau juga hamburkan kata-kata pedas, tak pantas, yang masih menikam tepat di jantungku, saat ku ulangi dalam kepala.
Sudah tahu pedih, sudah tahu pilu, tapi tetap saja aku tak beranjak dari situ. Masih berdiri di bibir jurang dan tak berhenti berpikir, apakah harus melompat atau mengambil langkah mundur dan menjauh. Jika seribu tanda sudah dijejalkan di depan mata, kapan aku akan memilih untuk tak lagi buta? Mengapa tak jua bisa ku jawab sebuah pertanyaan sederhana..
at
23:07
Belum mengarah pada siapa-siapa dan harusnya tak mengapa. Aku ingin jadi seseorang yang utuh sebelum membelah diri. Aku belum merasakan keinginan, kebutuhan atau ketergantungan pada lelaki mana pun. Sejujurnya beberapa dari mereka malah membuat aku muak. Mereka mengarah entah ke mana dan melakukan sesuatu tanpa dasar logika. "Aku melakukannya karena aku ingin. Itu saja!" Ohh.. itu jawaban yang sangat tidak menenangkan tuan.
Mari kita bicara sebagai dua orang dewasa. Kita ini siapa.. berdiri dimana.. mau kemana? Jika memang ingin berteman, mari kita berteman. Jika ingin bersahabat, mari kita bersahabat. Tapi jika nanti berkembang jadi asmara bagaimana? Tolong jangan kau katakan, "Gimana nanti aja!" Mari ingat lagi kita siapa dan berdiri dimana. Tolong jangan kotori sebuah pertemanan atau persahabatan dengan cinta yang buta dan akhirnya membakar semuanya. Ingat! Kita ini sudah dewasa..
Jika memang cinta itu kemudian ada, mari kita kembali bicara. Kita akan bagaimana? Aku lebih suka kita kembali ke titik awal atau berjalan dalam arah yang benar-benar berlawanan. Jika masih memaksa, tolong lakukan yang terbaik untuk kita berdua. Jika tetap memaksa, aku akan bicara lebih lantang, kemudian turun gelanggang. Karena aku tahu.. saat kau memaksa, sebenarnya kau tak punya rencana apa-apa. Kau hanya tak mau ditinggalkan, sendirian, merana dalam kehangatan yang kau maknakan sebagai paksaan, siksaan, ancaman dan kesepian. Aku mohon.. Sadarlah tuan..
*Tak usah memaksa jika kita tak tahu akan kemana..
at
21:47
Menikmati blogs orang lain itu seperti mencandu. Tiap hari ku nantikan apa yang baru lahir dari kepalanya. Segenap kecerdasan, segenap kekonyolan atau segenap kepedihan kah? Aku mau ceritamu hari ini. Menulislah untukku setiap hari. Aku akan setia menunggu, seperti anak gadis menanti surat cinta untuknya tiba. Bicaralah padaku lewat semua kata, kalimat atau bahkan tanda baca. Kau pasti tak tahu kini aku sudah mencandumu.
Teruslah menulis untukku.. Coz i'm following you.. anonymously
at
15:30
Judulnya dangdut sangat ya. Tapi sebelum semua menguap dari kepala, sebaiknya saya tulis saja yang teringat, dari perjalanan hari kemarin hingga hari ini. Mulai dari percakapan dalam telefon yang membuat darah mendidih, hingga sebuah pertemuan manis dengan seorang lelaki usia senja yang menuntun saya melihat hidup dari sisi yang lain.
Tak pernah terbayang sebelumnya, setelah sore marah-marah karena orang bodoh bertingkah dan buat hidup orang susah, keesokan harinya saya duduk di kantor seorang kakek, mantan pejuang. Aku mendengarkannya bercerita hingga berkaca-kaca.. dan dia bicara soal C.I.N.T.A. Sungguh kalau ingat lagu yang lagi "in" sekarang bakal mual-mual. Tapi cerita kakek ini justru bikin kita bisa berefleksi.
Awalnya dia bertanya, "Tuhan itu menciptakan perempuan ada yang cantik dan ada yang jelek. Bener?" Aku cuma bisa menjawabnya dengan bercanda, "Yah pak, cantik itu relatif, kalo jelek mutlak." Dia ga menyalahkan jawabanku. Dia lalu coba menjelaskan, bahwa yang bisa bikin semua berbeda itu cinta. "Misalnya, meskipun saya punya istri gak cantik, tapi saya cinta, dia jadi terlihat cantik sekali," kata dia. Eheemm.. saya tertohok untuk pertama kali di ruangan itu. Kakek manis sekali ya!!
Lalu dia mengulangi tiga hal penting yang ia tekankan di awal ceritanya, bahwa sebagai manusia, kita harus pegang tiga hal, yaitu "Keberanian, Kesadaran dan Kesabaran". Tiga hal ini akan jadi cerita panjang yang kayaknya ga bakal sanggup saya tulis di satu posting. Satu contoh kasus soal kesabaran yang masih berhubungan dengan cinta dari sang kakek adalah kisah menunggu istrinya berdandan.
"Perempuan itu kalau dandan, bisa lamaaa sekali. Mau ke undangan bisa dandan dua jam. Mungkin sekarang banyak laki-laki yang kesal nunggunya. Tapi kalau kita coba sabar. Gak usah dimarahin. Ga usah bilang lama amat!! Sabar aja, kita tunggu. Begitu dia keluar, kita kaget. Ya Allah.. istri saya cantik sekali ya!! Akhirnya bapak gak jadi ke undangan, malah ke kamar," ujarnya sambil tertawa geli.
Saya jadi berpikir, berapa banyak ya laki-laki sekarang yang tabah nunggu istrinya dandan, gak usah pake marah?? Hehe...
Dan ini yang paling menohok.. dan mudah-mudahan cerita lengkapnya bisa berlanjut ke C.I.N.T.A (2) atau (3).
"Berani itu penting. Berani berbuat. Berani bertanggung jawab. Jangan kayak orang-orang sekarang. Berani berbuat tapi pas harus tanggung jawab, ngomong saja tanggung-tanggung..." (B e r s a m b u n g...)
*Kita gak pernah tahu akan bertemu siapa esok lusa. Iblis kah? Malaikat kah? Tapi rekatkanlah pikiran baik di dalam kepala. Karena pikiran itu yang akan menarik nasib, termasuk soal siapa yang akan kau temui esok lusa. Saat kau terus mengingat/mengharapkan seseorang, Tuhan akan bicara padamu tentangnya dengan mengirim berbagai tanda (baik atau buruk). Jadi, siapa yang ingin kau temui esok lusa? Seorang bajingan kah? Seorang penuh cinta kah?