Pola "Cinta"

4.6.10

My Teenage's Tears (Part II)

Perempuan bertemu lelaki.. dari sendiri.. lalu memutuskan berdua, mencinta dan berharap selamanya. Mungkin itu angan-angan mayoritas perempuan sejak muda belia.

Dulu zaman nenek-nenek kita atau mungkin masa sebelumnya, perempuan yang menikah di usia belasan tak terhingga jumlahnya. Kini perempuan cenderung menunda pernikahan dan mengawali masa pacaran di usia yang lebih muda. Dulu saya bukan penentang pacaran sejak usia belasan, malah saya pikir ya biasa-biasa saja, selama tidak melakukan yang aneh-aneh. Tapi bertahun-tahun setelahnya, saya memperhatikan sekitar, memperhatikan remaja-remaja dengan usia yang jauh di bawah saya, termasuk saudara-saudara perempuan saya, kok jadi khawatir sejadi-jadinya. Ada perasaan was-was, karena masa kini jauh berbeda dengan sepuluh hingga lima belas tahun lalu. Dan saya terus mengamati pola yang sama. Jatuh cinta, berbunga-bunga, mabuk cinta, putus cinta, terpuruk, mengeluh dan hidup mulai berantakan. Tak henti-henti curhat pada teman dan sibuk mengoles-oles luka hati dengan 'betadine' tapi tak kunjung sembuh juga. Polanya selalu lama. Tak ada kata 'selamanya' selagi masih di atas dunia.

Jatuh cinta memang tak terhindarkan. Tapi seandainya.. seandainya saja, kita bisa mengerem sebelum semua terlambat. Atau memilih menunda menurutkan perasaan berbunga-bunga yang kita kira selamanya itu, mungkin tak perlu begitu banyak hati dan hidup yang hancur. Satu hal yang berbahaya dari jatuh cinta adalah ketergantungan pada orang yang kita cinta. Telat dapet kabar bingung & khawatir, gak di-sms ngambek, gak ketemu kangen. Tiap hari sms, chatting, fb-an isinya cuma bilang kangen, pengen ketemu, ngambek-ngambek, baikan, terus tiba-tiba diduain, putus, sedih, nangis-nangis, ngerasa dicampakkin, disakitin.. Periiihhh... Polanya terus berulang. Ngabisin 'hati', tenaga, uang buat beli pulsa, waktu.

Kenapa? Kenapa kita harus sampai sebergantung itu pada orang yang sangat potensial mencampakkan kita? Sampai nantinya kita harus memunguti keping demi keping hati kita yang berserakan, hancur berantakan sendirian.. bener-bener sendirian.. Kita gak pernah tahu hati manusia. Bisa diduga, tapi kita gak pernah tahu yang sedalam-dalamnya. Meskipun mereka gak berhenti bilang cinta, sayang, kangen, gak akan ninggalin. Akhirnya semua cuma omong kosong..

Mungkin tulisan ini terlalu negativistik, terlalu pesimis, padahal cinta itu sebenarnya manis. Maaf.. saya cuma melihat pola, saya cuma menoleh ke belakang, dan menengok kiri kanan. Saya cuma mau mengajak kita semua menjaga hati, sampai waktunya. Waktu yang ditetapkan oleh-Nya. Sampai ada yang berniat baik, bertemu wali kita, menikahi dan berdoa semoga cintanya bisa bertahan selamanya, bukan cuma di atas dunia..

*untuk waktu yang tersia-sia, untuk semua yang pernah merasa dibuang dan terbuang, untuk cinta yang tak pernah salah tapi disalahgunakan, untuk semua yang mungkin masih bisa diselamatkan*

0 comments:

Posting Komentar