Untuk Sebuah Nama

28.6.10

Ini lirik lagu Ebiet G. Ade yang harus saya akui, berhasil bikin saya "ngahuleng" dalam perjalanan Cirebon-Bandung.. Kind of ironic ending for a run away trip..

Mengapa jiwaku mesti bergetar
sedang musik pun manis kudengar?
Mungkin karena kulihat lagi
lentik bulu matamu, bibirmu,
dan rambutmu yang kau biarkan
jatuh bergerai di keningmu
Makin mengajakku terpana
Kau goreskan gita cinta

Mengapa aku mesti duduk di sini
sedang kau tepat di depanku?
Mestinya aku berdiri berjalan ke depanmu,
kusapa, dan kunikmati wajahmu,
atau kuisyaratkan cinta
Tapi semua tak kulakukan
Kata orang cinta mesti berkorban

Mengapa dadaku mesti berguncang
bila kusebutkan namamu?
Sedang kau diciptakan bukanlah untukku itu pasti
Tapi aku tak mau peduli
sebab cinta bukan mesti bersatu
Biar kucumbui bayangmu
dan kusandarkan harapanku

What a song!! ^_^

Salju

23.6.10

Hujan.. Rintik-rintik
Gerimis tipis-tipis
Saat bersamamu, pasti kau akan bilang, bukan hujan.. "salju"
Kau memang manis
Dan mungkin akan selalu begitu
Meskipun kau lempar aku dengan batu atau kau tetes lukaku pakai cuka
Sakitnya.. perihnya.. tetap ku kecap.. manis..

-12610- by the rain

'Matahari' yang Lain

15.6.10

"Ayo berhenti Jo!" ujar Ara. Jo tidak menjawab, ia hanya mempercepat laju mobil sambil terus menengok spion. "Kenapa dia kejar-kejar kamu sampai ke rumah? Kenapa kamu juga gak mau angkat telfonnya?" Ara tidak bisa berhenti bertanya. Jo hanya menjawab singkat, "Aku males ribut. Aku udah gak ada hubungan apa-apa sama dia." Ara bingung bercampur sedih. Baru beberapa minggu belakangan ia akrab kembali dengan Jo dan ia tidak bisa menampik, bahwa rasa yang mereka berdua pernah kubur dalam-dalam, kini mulai menunjukkan 'dirinya' lagi. Tapi kenapa harus ada drama seperti ini? "Sudahlah, aku hanya harus percaya pada Jo," Ara mencoba meyakinkan diri sendiri. "Mungkin memang perempuan itu aja yang aneh," Ara kembali membuat pembenaran atas kekacauan malam itu.

Tahun-tahun berlalu..
Tanpa Ara pernah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya ingin percaya bahwa lelakinya sekarang sudah bertindak benar dan mereka punya perasaan yang sama dan mereka sebut cinta. Hingga siang itu, Ara harus terisak sendirian. Semua rasa percayanya pada Jo runtuh. Hubungannya berakhir dengan penjelasan yang samar dan sarat penyangkalan. Satu hal yang pasti ia hadapi saat ingin bicara dengan Jo adalah puluhan nada panggil telefon tanpa jawaban.

Ara termenung. "Mungkin ini yang dulu Mita rasain. Sakit. Bingung. Perih. Sampai ia terus ngejar-ngejar Jo ke rumahnya, untuk minta sedikit aja penjelasan. Maafin aku Mit," Ara hanya mampu berkata-kata dalam hati. Air matanya terus mengucur deras dan ia memang tak berniat menghentikannya. Ia akhirnya tertidur dan bangun dengan mata sembap.

Esoknya Ara merasa amat lelah, tapi ia tetap harus berangkat ke kantor. Beberapa teman di kantornya menyadari betapa tatapan Ara masih kosong, seperti hari saat ia mendapat keputusan Jo lewat instant messenger. Ada yang direnggut paksa darinya dan ia belum berhak mendapat penjelasan apapun hingga hari ini. "Sudah genap seminggu Jo," Ara terus membatin.

Ara sudah lelah diam saja, ia harus dapat jawaban, dapat penjelasan, apapun bentuknya. Ia dengan cepat mengetik emailnya di browser, tapi kemudian tidak menuliskan user name dan passwordnya. Ia mengetik akun Jo sambil mencoba mengingat password yang pernah satu kali diberitahukan padanya. Terbukalah akun itu. Ada beberapa email-email Ara yang belum dibaca dalam inbox dan Ara sadar ada beberapa email-nya yang tampaknya tak pernah masuk ke inbox Jo. Ara meneliti surat yang masuk satu demi satu. Tak ada yang aneh.

Tak berhenti di situ, Ara coba mengecek sent items, dan.. 'klik' terbukalah satu email yang dikirim sekitar setahun yang lalu. Ara menemukan baris-baris hangat di dalamnya, curahan perasaan dan permintaan maaf. Tapi baris-baris itu bukan untuknya, bukan juga untuk Mita. Tapi nama itu sungguh tak asing di telinganya. Nama yang sebenarnya belakangan cukup sering disebut Jo. Jika seminggu yang lalu, hatinya hancur, hari ini dunia Ara serasa berhenti seperti berputar.

Sejak setahun yang lalu, ternyata sudah ada seseorang yang berdiri di antara ia dan Jo. Seseorang yang mungkin membuat beberapa perubahan dalam hubungannya. Namun perubahan itu selalu ia sangkal. Segala kecurigaannya selalu ia tepis. Kini ia menekuni baris demi baris yang menyayat hatinya dengan khidmat. "Kamu seseorang buat aku. Aku sayang sama kamu. Maafin aku yang belum bisa selesaian masalah aku dan aku juga gak tahu kapan ini semua bisa selesai. You're my lovely sunshine."

*2007-2008 menjauh karena yang lain berlabuh*


Akhir 2 Jiwa

14.6.10


Dua jiwa yang luka.. berkelana.. Tertaut dan lebih terluka. Lalu melangkah berlawanan arah dalam duka yang tak pernah sama. Percakapan dalam diam lewat tatapan, bisikan hangat, obrolan ringan, bahkan teriakan kesakitan nyata-nyata belum mampu mengubah apapun. Luka tinggal lah luka.. Cinta pergi lah cinta..

Berencana vs Mengalir Saja

11.6.10

Hari ini seorang teman berulang tahun dan mem-post satu kalimat yang cukup menggelitik di twitter. Usianya x tahun dan ia bersyukur karena hidupnya berjalan sesuai yang ia rencanakan. Kalimatnya biasa saja ya? Hehe.. Mungkin biasa saja untuk yang hidupnya terencana. Tapi tidak untuk saya yang masih tanpa tujuan, hanya mengikuti ke mana saja angin berhembus atau ke mana saja air mengalir. Okay, pelajaran hari ini adalah, mari membuat rencana dan tujuan, berikut rencana cadangan.

Lalu bagaimana dengan kejutan-kejutan di tengah jalan, yang mungkin bisa membelokkan arah hidup kita 180 derajat? Hidup kita kan memang bukan jalan lurus tak berliku, justru banyak sekali menanjak, menurun, dan berkelok-kelok. Tapi mungkin dengan bertujuan, meski berliku, akhirnya tetap sampai.. Mudah-mudahan.. Dengan punya arah dan tujuan juga mungkin bisa mencegah kita melakukan sesuatu yang menggagalkan kita mencapai sasaran dan membuat kita lebih giat melakukan apa yang mendukung pencapaian. Tidak semua yang disodorkan di depan mata harus diambil dan tidak pula ditolak mentah-mentah. Pilihlah mana yang mendekati sasaran, mana yang mengarah ke tujuan. Yah, ini mungkin cuma sebuah wacana, semua masih di kepala..

Baiklah.. Mari menjawab pertanyaan pertama, jadi apa tujuan anda??

Demons Trapped The "Angel"

8.6.10

Lately many people talk about the couple who used to be lovely in their eyes. Almost all the people i know are curious about "the accident" they made and now almost all television program discuss about that thing. Many people are asked for their comments and some talk like they're the holy one.

So i wanna know, whose sins is this? The lovely couple? Someone who uploaded it on the net? Netter who spread it like virus? Television and newspaper who give lots of portion on this news? Everybody who wants to know? Everybody who watched the video, including the expert of telematic who gave lots of comment on the video, about who's actually the actor and actress. Coz in my opinion, the one who can give comment is the one who watch it first. So whose sins is this?

Most of the people want to know and watch it, while at the same time they're talking about morality. So what's moral anyway? Moral is not doing but watching?? Why can't we stop bothering others business and shout about morality? Maybe it's their 'sins', but don't think it's not becoming our sins while we're enjoying talk about it and watch it, though it's so tempting anyway..

Maybe we're just 'angels' whom trapped by demons and become a hypocrite.. Or we're no angel at all. We're just enjoying the condition where people actually are just 'worse' than us. Then we can be calm hiding behind our mask. But who knows who's better and who's worse?



Link http://littlemebigme.blogspot.com/2010/06/bad-is-good.html

Complicated!

5.6.10


Sulit! Perasaan ini sungguh sulit dimengerti. Kenapa? Bingung juga jawabnya. Sering sekali saya merasa seperti ini. Merasa sepertinya lebih baik menjauh saja dengan semua orang yang harusnya kepada mereka saya lekat. Mendadak ketika dihubungi lewat telefon, saya malas bicara. Apalagi membicarakan masalah-masalah yang pernah ada. Entah saya yang aneh, entah memang kenyamanan itu tidak bisa dipaksakan, entah kenapa, entah mengapa. Saya juga tidak punya jawabannya.

Saya merasa jadi makhluk aneh, saya lebih suka bicara pada makhluk yang sepertinya enggan bicara sama saya, bahkan peduli pun tidak. Dan saya malas untuk bicara dan membuka diri pada orang-orang yang seharusnya dengan mereka saya lebih banyak bicara. Maaf, saya tidak bermaksud menyakiti siapa-siapa. Saya cuma suka tiba-tiba mood-swing saat berhubungan dengan mereka. Bukan mau saya.. Sungguh bukan mau saya. Apalagi ketika mereka tiba-tiba memilih topik pembicaraan yang justru saya hindari. Saya semakin malas saja. Tapi mungkin juga ini pengaruh PMS, maklum perempuan. Syukurlah, kalau memang cuma karena PMS dan tidak lebih.

Kalau lebih, berarti saya harus terus mencari jawaban 'mengapa'? Mengapa saya sampai seperti ini? Apa yang sebenarnya saya simpan, kemudian saya hindari? Hingga jadi complicated begini. Rumit.. Bahkan dengan seseorang yang pernah lekat selama hampir 4 tahun, semakin lama.. saya semakin 'menyendiri'. Saya bungkam! Dan saya merasa tak ada gunanya berbagi dengannya. Karena dibagi pun hanya jadi gelap, suram, tidak mengubah apapun.. complicated.. so complicated!! *sigh...

*Apa saya harus hidup di hutan sendirian?*

Pola "Cinta"

4.6.10

My Teenage's Tears (Part II)

Perempuan bertemu lelaki.. dari sendiri.. lalu memutuskan berdua, mencinta dan berharap selamanya. Mungkin itu angan-angan mayoritas perempuan sejak muda belia.

Dulu zaman nenek-nenek kita atau mungkin masa sebelumnya, perempuan yang menikah di usia belasan tak terhingga jumlahnya. Kini perempuan cenderung menunda pernikahan dan mengawali masa pacaran di usia yang lebih muda. Dulu saya bukan penentang pacaran sejak usia belasan, malah saya pikir ya biasa-biasa saja, selama tidak melakukan yang aneh-aneh. Tapi bertahun-tahun setelahnya, saya memperhatikan sekitar, memperhatikan remaja-remaja dengan usia yang jauh di bawah saya, termasuk saudara-saudara perempuan saya, kok jadi khawatir sejadi-jadinya. Ada perasaan was-was, karena masa kini jauh berbeda dengan sepuluh hingga lima belas tahun lalu. Dan saya terus mengamati pola yang sama. Jatuh cinta, berbunga-bunga, mabuk cinta, putus cinta, terpuruk, mengeluh dan hidup mulai berantakan. Tak henti-henti curhat pada teman dan sibuk mengoles-oles luka hati dengan 'betadine' tapi tak kunjung sembuh juga. Polanya selalu lama. Tak ada kata 'selamanya' selagi masih di atas dunia.

Jatuh cinta memang tak terhindarkan. Tapi seandainya.. seandainya saja, kita bisa mengerem sebelum semua terlambat. Atau memilih menunda menurutkan perasaan berbunga-bunga yang kita kira selamanya itu, mungkin tak perlu begitu banyak hati dan hidup yang hancur. Satu hal yang berbahaya dari jatuh cinta adalah ketergantungan pada orang yang kita cinta. Telat dapet kabar bingung & khawatir, gak di-sms ngambek, gak ketemu kangen. Tiap hari sms, chatting, fb-an isinya cuma bilang kangen, pengen ketemu, ngambek-ngambek, baikan, terus tiba-tiba diduain, putus, sedih, nangis-nangis, ngerasa dicampakkin, disakitin.. Periiihhh... Polanya terus berulang. Ngabisin 'hati', tenaga, uang buat beli pulsa, waktu.

Kenapa? Kenapa kita harus sampai sebergantung itu pada orang yang sangat potensial mencampakkan kita? Sampai nantinya kita harus memunguti keping demi keping hati kita yang berserakan, hancur berantakan sendirian.. bener-bener sendirian.. Kita gak pernah tahu hati manusia. Bisa diduga, tapi kita gak pernah tahu yang sedalam-dalamnya. Meskipun mereka gak berhenti bilang cinta, sayang, kangen, gak akan ninggalin. Akhirnya semua cuma omong kosong..

Mungkin tulisan ini terlalu negativistik, terlalu pesimis, padahal cinta itu sebenarnya manis. Maaf.. saya cuma melihat pola, saya cuma menoleh ke belakang, dan menengok kiri kanan. Saya cuma mau mengajak kita semua menjaga hati, sampai waktunya. Waktu yang ditetapkan oleh-Nya. Sampai ada yang berniat baik, bertemu wali kita, menikahi dan berdoa semoga cintanya bisa bertahan selamanya, bukan cuma di atas dunia..

*untuk waktu yang tersia-sia, untuk semua yang pernah merasa dibuang dan terbuang, untuk cinta yang tak pernah salah tapi disalahgunakan, untuk semua yang mungkin masih bisa diselamatkan*

Lekat

3.6.10

Hanya bisa memandangnya dari sebuah jendela berkaca, terbit banyak kata dan menjadi tanya. Akankah perlahan kita lupa, meski sekarang masih luka? Mungkin 'ya', karena bukan kita yang lekat, melainkan aku dan kamu pada pilihan derita. Karena mungkin tak layak bagi kita untuk apapun. Cukup saja derita untuk sementara atau selamanya. Karena bahagia itu mahal harganya, sedangkan untuk derita cukuplah kita persalahkan orang lain karena membuatnya untuk aku, kamu, bukan kita..

*after reading Eleven Minutes - Paulo Coelho*

18510

Gempa.. Mata.. Hati.. Takdir.. Sabit.. Cukup..

Sudah Waktunya

2.6.10

Sudah terang..
Sekarang waktunya berhenti menyalahkanmu atas semua ucapanmu, sikapmu, bingungmu, pelarianmu dan semua yang pernah buat aku marah. Aku sudah berusaha dan mendapat jawabnya. Ini bukan lagi tentang kamu. Tapi tentang aku. Yang harus belajar menerima apapun keadaanmu, meski pernah buat aku kecewa, luka, hina. Ini pelajaranku. Biar Tuhan saja yang memberi pelajaranmu. Aku memaafkan, belajar melupakan dan terus berjalan. Dan aku harus mulai belajar mengatakan TIDAK dan MAAF.. Dua kata yang mungkin bisa menyelamatkan masa depan..

Dendang Nyalang

1.6.10

Sekarang...
Tinggal saat untuk mengenang
Karena semua telah tertinggal di belakang
Kau sudah jadi karang yang terbiasa dihantam gelombang
Dan aku jadi arang

Sayang...
Saat kau membatu
Aku memilih jadi abu, debu, terbang dan tersapu
Membeku di masa lalu..

-9510- @Buah Batu in the afternoon