Belajar dari Pesisir
29.4.10
at 16:45Saya sedang di Karawang, di pesisir pantai, mengunjungi tambak-tambak yang beresiko tinggi gagal panen, karena berbagai permasalahan. Udaranya tentu saja panas, tapi seafoodnya sedaaap! Sebanding sama panasnya.
Sayang..ada sedikit gangguan di pikiran saya, yang saya tinggalkan di satu kota, untuk satu kenangan yang belum berhasil saya hentikan pemutarannya dalam kepala. Dan ia sering tiba-tiba menghampiri. Meninggalkan kekosongan yang terus saya coba isi. Saat dia datang, saya merasa sangat sulit untuk merasa beruntung. Lalu alam mengajarkan pada saya dengan caranya. Betapa Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk saya. Dan sebaiknya saya berhenti protes sekarang juga.
Di sisi kanan jalan, tepat di bibir pantai, saya melihat rumah-rumah yang mulai terkena abrasi. Beberapa malah sudah berbentuk panggung dan akrab sekali dengan gelombang. Rumah-rumah ini beratap rendah dan dindingnya terbuat dari geribik- geribik bercelah yang sukarela membiarkan angin menembusnya. Sangat jauh dari kesan mewah. Daerah ini tepatnya bernama Pisangan, yang masih masuk wilayah Kabupaten Karawang. Di sini masyarakatnya heterogen, terdiri dari beragam etnis dan kepercayaan. Ada masjid, gereja, juga wihara. Babi berkeliaran juga hal yang biasa. Menurut salah seorang warga yaang bernama Kim Yun, laut sudah menggerus daratan sejauh 2 km dan daerah yang kini sudah jadi pantai, dahulu bekas kebun pisang, karena itu namanya Pisangan.
Suasana di daerah itu agak suram, entah karena sudah sore saat saya datang atau memang selalu seperti itu. Memandang ke utara hanya ada lautan dan ke selatan tambak-tambak bertebaran.
Soal air, tak terbantahkan lagi..payau!! Rasanya asin dan meninggalkan rasa lengket pada kulit. Tapi mereka bertahan, meski mungkin dengan sejuta harapan dan angan-angan di kepala. Harapan tambak udangnya berhasil, tidak gagal melulu dan membuat mereka bangkrut. Karena jumlah modal usaha tambak cukup fantastis dengan risiko yang tinggi, khususnya untuk udang, sehingga kala merugi bisa membuat petambak kehilangan lahannya, apalagi jika mereka terkait utang-piutang dengan sistem ijon.
Dan akhirnya saya teringat kasur empuk, selimut hangat, air bersih dan udara sejuk yang jauhnya ratusan kilo dari sini dan semua itu bisa saya nikmati setiap hari.
Baiklah, tampaknya ini waktu yang tepat untuk menghentikan protes. Bahwa hidup itu keras, tak terbantahkan. Bahwa bersyukur itu menambah nikmat, perlu diyakini..
-290410-
Balada Cucu Adam-Hawa
27.4.10
at 18:21Begitulah kehidupan dan misterinya. Manusia tak kuasa menolak saat cinta menyapa, berjanji setia, menentang penghalang, berjuang bersama.
Enam tahun yang lalu, tak pernah terbayang semua berakhir dan keduanya saling melepaskan bukan dalam nama cinta. Karena kata itu ternyata sudah menguap entah kapan dan kemana. Datang.. singgah sebentar.. lalu hilang..
Malam itu sekadar mengobrol basa basi, menanyakan kabar keluarga dan usai. Sadar bahwa yang telah pergi, mungkin tak pernah kembali. Dan berjalan ke arah yang sama sekali berbeda adalah cara terbaik menyembuhkan hati.
Tak ada lagi kupu-kupu warna-warni. Tak ada lagi degup kencang denyut nadi. Meski tak menabuh genderang perang, semua sudah usang. Bahkan cinta yang pernah diteriakkan dengan lantang.
"Apa yang menetap? Apa yang hilang?"
-26410- night
Selamat tinggal mantan pacar
at 11:57Sebetulnya saya harus sudah mulai me-ngerem membanjiri blogs ini, tapi selalu ada saja yang menggelitik. Siang ini saat membuka situs jejaring sosial, saya menemukan pesan singkat "Datang ya!" (Terdiam beberapa detik)
Getir?? Ah lebaii.. Engga getir juga kok. Cuma ada rasa-rasa aneh di perut, serupa mules, tapi ini juga mungkin bukan efek short message, memang perutnya aja lagi ga beres (ayoo menyangkal) :D
Ya.. dia akhirnya memutuskan untuk menikah, setelah pernah berujar bahwa sulit baginya mempercayai wanita. Ah.. inilah seninya hidup, you never know what's coming for you..
Sebenarnya ga ada alasan untuk lebaii.. toh hubungan asmara itu sudah bertahun-tahun berlalu. Itu juga kalau bisa dibilang ada asmara ya. Karena, waktu itu kami hanya sepasang remaja.
Baiklah.. Selamat tinggal mantan pacar.. Semoga kau berbahagia..
Meski tak ada alasan untuk merasakan yang aneh-aneh, mungkin ini hanya perasaan sedikit kehilangan yang entah darimana datangnya..
-270410-
while listening to Koil - Aku Lupa Aku Luka
As thin as the skin
26.4.10
at 14:31and maybe it also means, i don't have any reason to love you
I just love you
I don't mind whether you turn brown
For me you're still as sweet as brown sugar
Even if you turn black
Like coffee.. it tasted bitter, but i still like it
Cause i don't love you as thin as the skin
I love you more than that.. If you'd like to know
So why don't you tell me about yours?
Is it much thinner than the skin?
Or is it just a matter of skin? ;)
-26410-
Thanks Zeze.. (You're inspiring me, in one sunny day)
Sweet Lies Bitter Truth
24.4.10
at 15:50Entah kita siapa di atas sana dan sekarang saling memalingkan muka
Entah untuk apa semua luka, jika hanya untuk nestapa
dan untuk apa marah.. hingga lelah..
Kini aku tak lagi tahu mana benar, salah, jujur dan bohong. Dan apa gunanya tahu? Aku tak yakin masih bisa menelan jujur atau menyungging senyum untuk dusta. Dan aku tak tahu lagi beda keduanya.. sudahlah.. sudah.. mari kita hentikan semua permainan kata-kata. Biar hening saja dan tak perlu pekak telinga..
Which is better for you? Bitter truth or sweet lies?
But for all of your lies.. I won't wait for your sorry. I'll give you forgiveness..
-410-
Menjelang
at 15:38Letih ini kembali datang. Aku meredup. Hilang..
Jika mimpi ini harus hanyut, aku memilih untuk mencari pelayaran baru, ke negeri yang aku tak tahu dimana, untuk mencari sebuah 'apa'.
Aku tak kan lagi bertanya 'kenapa'. Aku hanya ingin tahu harus bagaimana.. saat semua sirna.. -130110-
Aku meraih mimpi kah? Atau aku hanya menggali kuburku sendiri?
Lebih baikkah? Atau masih berjalan tanpa arah?
Lebih gigihkah? Atau aku hanya memaksakan keadaan?
Lebih sabarkah? Atau aku hanya merepresi semua ke pojok pra-sadar?
Lebih pasrahkah? Atau aku hanya tak berbuat apa-apa?
Ini masalahnya kah? Atau memang aku yang tak pernah belajar dari salah?
Bercermin dan melihat apa yang ada di dalam, ternyata lebih sulit dari menyalahkan ..
Telan.. terima dan endapkan -14110-
Sahabat Pertama
at 11:10Sewaktu masih di bangku taman kanak-kanak, seingatku kami hanya saling mengenal, belum berteman dekat. Setelah masuk ke sekolah dasar yang sama, barulah kami mulai intens bermain dan segala dinamika pertemanan kami kecap bersama. Kami pernah ada di kelas yang sama, pernah les pelajaran bersama di rumah nenek Gita. Orang tua dan keluarga kami pun saling mengenal. Maklum kami tinggal di kota kecil dan jarak antara rumah nenek Gita dengan rumahku tak sampai 2 kilometer.
Hingga kelas satu SMP kami terus bersama. Ia sering main ke rumahku dan aku sering berada di rumah neneknya. Kerap aku menjemputnya di rumah neneknya saat akan pergi sekolah dan ia kerap marah-marah, karena kebiasaan terlambatku. Kadang dia manyun dan mendiamkan aku sepanjang jalan karena kesal, kadang kami mengobrol dan kadang kami jalan sendiri-sendiri asik dengan lamunan masing-masing. Naik ke kelas dua, kami tak lagi sekelas, aku menemukan teman-teman baru, demikian pula Gita. Kami semakin menjauh meski masih saling menyapa.
Waktu terus berjalan dan kami masuk SMA yang berbeda. Sayup-sayup, masih ku dengar kabarnya hingga kami sama-sama di bangku kuliah dan ada di kota yang berbeda. Aku pernah mendengar ia dekat dengan seorang teman yang sama-sama kami kenal sejak taman kanak-kanak sebelum seseorang memberitahuku bahwa ia jatuh sakit.
Dan inilah "perjumpaan"-ku yang terakhir dengannya, setelah bertahun-tahun..
Sore itu angin berhembus sepoi-sepoi saat aku menghadapi pemandangan bukit berwarna hijau dan hamparan rumput. Tekadku bulat menemuimu Git dan aku berbisik, "Git, aku dateng.." Untuk beberapa saat aku merasakan sapuan angin lembut mengusap pundakku sewaktu aku memandang pusaramu (mungkin angin itu kamu?) .. dan aku hanya mampu berkata-kata tanpa suara. "Selamat beristirahat Git.. Aku tahu kamu ada, meski aku tak bisa lagi melihatmu. Terima kasih sudah menjadi sahabat pertamaku.."
Gita Puspita Maheswari (1983 - 2003)
-240410-
More about Gita in http://gita1983.blogspot.com
Fiksi
23.4.10
at 17:40-23410- afternoon
Apa Adanya
22.4.10
at 12:18Betapapun kau buat aku sakit, di sini selalu ada maaf untukmu. Maaf yang masih membuatku mampu melihatmu lewat kaca jendela.
Maaf yang masih menghadirkanmu dalam bunga tidurku. Meski bahkan dalam mimpi pun kau tak pernah menjadi seperti yang aku mau.. dan mungkin tak akan pernah..
Aku tidak memintamu untuk menjadi sesuatu yang aku mau. Cukup bagiku, kamu dengan semua keindahan dan semua kekuranganmu.
Aku bisa menerimamu apa adanya. Termasuk saat kau memutuskan untuk tak tinggal.
Pergilah..
Aku tetap menerima semua apa adanya..
Beautiful in its own way.. Just let it be... my dear.. :)
-22410- Noon
3 kebaikan & 1 keburukan
21.4.10
at 20:10hasilnya .. ibu selalu berurai air mata, kemarahan dan penyesalan untuk 1
3 kedatangan, 1 kehilangan
hasilnya.. selalu ada permohonan terhadap 1 untuk kembali
Tuhan memberikan 10 kebaikan untuk tiap kebaikan yang dilakukan manusia
dan hanya 1 ganjaran untuk setiap kejahatan
Kebaikan yang diberikan selalu lebih banyak dari keburukan. Lalu untuk apa semua air mata, kutukan, sumpah serapah, penyesalan yang tak kunjung habis? Demi 1 keburukan? Lalu kapan kita mensyukuri 3 kebaikan dan ikhlas membiarkan 1 keburukan semakin mengindahkan 3 kebaikan?
-21220410-
I love you when i loose you
at 20:03so .. from that day.. we're walking together
everything ran normal.. either did my feeling
no butterfly in the stomach
no arguing much
no missing you
everything went normally.. just normal
until you told me there's something different inside of you
your feeling changed
you couldn't say "I love You" loud and clear anymore
and at that time i just realized
i love you when i already lost you..
-21410- night
dedicated to Zeta
"untuk cinta yang menjadi murka"
Tuhan.. jangan ambil mata saya..
19.4.10
at 15:01Saya merasa semua salah, brengsek, sial dan saya terus mengutuki semua hal buruk yg terjadi, melewatkan hal baik tanpa pernah mensyukuri. Hidup saya buruk sekali!!
Tapi Tuhan memang baik hati.. Selalu memberikan kesempatan..lagi..lagi..dan lagi..
Suatu siang, saya melihat dua orang perempuan tuna netra saling berpegangan tangan. Salah satunya memegang tongkat. Mereka tampaknya sedang belajar mengenali lingkungan barunya, di kompleks Wiyata Guna, Jl. Pajajaran, Bandung. Saya mengamati sebentar lalu pergi salat di masjid dalam kompleks tersebut. Hingga.. saat saya selesai salat, mereka kembali ada di sekitar masjid, lalu salah satunya mendekati pintu masuk dan meraba-raba seraya berkata, "Ini mah masjid. Udh apal." (dengan logat sunda). Lalu mereka kembali berputar-putar sambil tertawa-tawa riang dan bercanda.
Lalu tiba-tiba terpikir, setelah melihat dua wanita itu, bagaimana seandainya saya gak dikasih penglihatan?? Saya panik!! Artinya.. Saya harus jalan kemana-mana pakai tongkat, saya hanya tahu gelap, saya gak bisa naik motor, gak bisa nyetir mobil, gak bisa kerja, gak bisa lihat komputer, internetan, twitter-an, bbm-an, gak bisa pilih baju bagus, gak bisa lihat pemandangan.. TIDAAAAAKK!!
Ampun Tuhan!! Jangan ambil mata saya..
Lalu saya berpikir.. Dalam gelap mereka tetap bisa bahagia.. Lalu dalam terang seharusnya saya bagaimana?
Dua mata kita.. Bukan untuk disia-sia..
-180410-
Just wondering..
15.4.10
at 14:44Seperti biasa.. jika ada yang selesai dan sulit diterima, maka yang muncul adalah pertanyaan "kenapa". Kenapa begini.. Kenapa begitu.. Kenapa semua ini?
Mengingat sekilas, beberapa tahun yang lampau.. Saat itu "friendster" menjadi sarana untuk membagi sesuatu yang "manis" antara dua orang yang katanya sedang jatuh cinta. Tidak ada masalah, tidak ada yang salah dengan itu. Hingga satu hari badai menyapu pantai. Bahasa yang lebay untuk menganalogikan hubungan yang kandas di tengah jalan. Aku tetap menjadi aku.. hanya sedikit merombak situs yang sekarang manisnya hanya bisa dikenang saja. Ini kulakukan supaya bisa menjawab pertanyaan yang datang, meski ku jawab secara tidak langsung. Jika seseorang menengok profilku, jelas sudah.. dan urung bertanya "Ada apa? Kenapa? Bagaimana?" Profilku sudah menjawab secara tidak langsung, "Ya, begitu saja!"
Tapi yang tidak terduga adalah, saat seseorang yang pernah manis ini, kemudian memutuskan untuk men-delete akun-nya.. Tak berapa lama setelah kami berkata "selamat tinggal". Aku bingung.. Jika tidak ada masalah, tidak ada yang disembunyikan dan semua baik-baik saja. Kenapa harus ada aksi delete-mendelete ya? Hal ini pernah berputar-putar di kepalaku untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, aku berpikir, ya sudah biarkan saja, toh bukan aku yang berubah, toh bukan aku yang sembunyi, bukan aku yang menarik diri dari peredaran. Mungkin dia merasa ada yang salah, jika terus "memasang" dirinya di dunia maya. Mungkin ada banyak hal yang dia tak ingin aku tahu. Ingin tetap misterius..
Sudahlah.. waktu terus berjalan.. hingga ini terjadi untuk yang kedua kali.. Namun sekarang urusan delete-mendelete tidak lagi menimpa akun "friendster" namun "facebook". Karena memang "facebook" sedang "in" saat ini. Sekarang, apakah aku harus mengajukan pertanyaan yang sama? Hmm.. kenapa ya? Semua jadi begitu misterius.. hehehe...
Untuk aku, kamu dan dia
at 11:52minta pengertian...
dan kita akan melangkah dalam damai
sudah ku pikirkan akan ku penuhi janjiku
semoga suatu saat
aku, kamu dan dia menyadari bahwa
setiap yang tersayang dan setiap pengertian
tak bertahan selamanya
-15410- before noon
Pergi.. Tolong..
14.4.10
at 17:58meski aku ingin "lari".. sangat..
sudah terlalu banyak tempat yang kita kunjungi
dan mengingat setiap detilnya sungguh membuat sakit kepala
aku ini ingin apa?
jika memang tidak ada yang baru di bawah matahari
lalu ini akan berakhir bagaimana?
terlalu naif untuk mengharap sebuah bahagia
sedang aku masih terus berjalan di labirin yang sama
memasak nasi dan menjadi bubur
dan aku tahu bubur tak kan lagi berubah menjadi nasi
pergilah kau dari kepalaku
jangan berputar, berdenging, berdesing lagi
pergi.. menjauhlah..
dan tenanglah
suatu hari aku pun akan mengambil beribu langkah darimu
menjauh..
dan berharap kewarasan ini akan tetap lekat sebelum waktu aku "pulang"
Sore -14410-
In Memoriam Vikky Bintangsyah
at 13:58Taufik Banua Bintangsyah
November 13th (34 years ago) - April 8th 2010
That afternoon rain was falling down, when i received an sms which told me that Vikky, one of radio announcer in Ninetyniners Bandung passed away. It was on April, 8th 2010. Suddenly, i can't say a word. It's the answer.. after i was waiting for him to come up at his show. Now i know, i won't be able to hear his voice in the air. Not anymore..
I asked my best friend to turn on the radio for me. And in silence i was hearing the announcers updating news about Vikky. Yes.. Vikky passed away and they're playing songs for him. Songs that make the blue afternoon felt so cold. Chrisye - Kala Surya Tenggelam, Peterpan - Tak Ada yang Abadi, 7 Kurcaci - Kembali, Incubus - I Miss You were the songs i remember.
I never knew him well. But somehow i feel that he's a good man. Vikky is one of my favorite announcer while i was in college (around 2001 until 2006). With Noni and Brutus, he ran a morning show, called "Funky in The Morning". It was fantastic! And i enjoyed it very much.
After graduated, i seldom listen to the radio and by that time Vikky didn't run the morning show anymore, because his two friends resigned from the radio.
Later i know that a friend of mine is his brother, and once in a life time i saw him. But at that time he's not in a good condition. Since 2008 Vikky got trouble with his health. He was sent to the hospital because of trouble in digest system.
After that, for a while his life back to normal. He made a new programme in the radio where he used to work in. But it's not long lasting. While i was listening to the radio which keep updating news about Vikky, i knew that he just showed up at his programme few times, because of his health. And at his last visit to the office, he's talking much with friends.. and that became his last words and moment in Ninetyniners.
On February his health getting worse and on April he was taken to the hospital. He stayed for two weeks and finally God called him on April 8th 2010 at 03.35 pm. Vikky passed away because of lymphoma, brain haemorrhage and meningitis. Vikky passed away on the day when his friends held charity event for him and his beloved wife.
That night.. I kept listening to the radio. So many sms from the listeners.. They want to send their deepest condolences to Vikky's family. And many stories from his friends were told on air.. about his goodness, about his hobby to visit many school around Bandung just to buy some school's food, his eating hobby and how he liked to bring chicken noodles from Antapani for his friends, his journey with 7 Kurcaci, and his opinion about Indie Band.
That was a long day.. Remembering a man whom i met and shaking hand once in my life time.
Vikky's funeral was held on Friday, the day after God called him. He was taken to Leles, Garut, to a family's cemetery. I kept listening to the radio that morning. And the radio crew told us that the funeral was finished on schedule.
I think everybody who knows him will continue sending their pray, hope God will give the very best things for Vikky.
Personally, his first and last words for me is.. "Ati-Ati!" He was saying that truly while looked at me in the eye.. Simple.. But until today, i still remember.. At that time he was standing in front of the house, accompanied me who was in a very messy condition, then he said those words.
Rest in peace Radio Star ..
A Star will always be a star, in heart, in mind, and high up above..
Few songs that continue playing for Vikky - some were requested by his closest friends on the day Vikky passed away..
Tanpa terasa. Kini kau telah tiada. Membawa semua kenangan di saat kita bersama. Andai bisa ku berjumpa untuk kembali tertawa. Tapi semua tak mungkin, karena kau tak kan kembali.. Ingin kembali.. jangan kau pergi.. (7 Kurcaci - Kembali)
You have only been gone ten days, But already I'm wasting away. I know I'll see you again. Whether far or soon. But I need you to know that I care, And I miss you.. (Incubus - I Miss You)
Remembering, everything, about my world and when you came. Wondering, the change you'd bring, means nothing else would be the same.Did you know, what you were doing, did you know. Did you know how you would move me well, I don't really think so.. (Mae - We're so Far Away)
Di sini sendiri jauh darimu. Ku lewati, malam sepi memuja. Tanpamu ku rasakan mati, tak seperti saat kau di sisi. Ku merindukanmu.. (Minoru - Merindukanmu)
My teenage tears..
5.4.10
at 12:34Tahun-tahun berlalu dan saya masih asyik dengan dunia saya dan mereka dengan dunia mereka. Saat mereka lantang melarang pacaran, saya masih asyik naksir kanan-kiri dan pacaran dengan beberapa orang, yang kebanyakan berakhir duka cita ala remaja.
Dalam psikologi populer, masa remaja memang saatnya untuk mulai mengenal dan berinteraksi dengan lawan jenis dalam relasi yang mengarah pada hubungan romantik dan (mungkin) pengalaman ini bisa menjadi dasar relasi mereka untuk menjalani sebuah komitmen pernikahan pada suatu hari nanti. Tapi apakah doktrin ini benar? (Sepertinya tidak sepenuhnya benar)
Memang beberapa pengalaman jatuh bangun patah hati memberikan pelajaran luar biasa, dan membuat kita jadi lebih kuat. Tapi mungkin tidak cukup sepadan dengan luka menganga yang meski sembuh, bekasnya terus saja ada dan banyaknya waktu yang terbuang percuma, demi mempertahankan relasi semu, yang cepat atau lambat berakhir juga. Mungkin beberapa cerita di sini bisa menjadi sedikit gambaran akan kesia-siaan akibat pacaran saat remaja dan jatuh-bangun patah hati.
Waktu itu saya baru masuk SMP dan beberapa bulan setelahnya ada seorang kakak kelas yang ingin berkenalan dengan mengajak segerombolan teman-temannya ke kelas saya. Singkat cerita kami berkenalan dan beberapa minggu kemudian "jadian". Seperti remaja lainnya, kami sering bertelefon dan dia sering main ke rumah, atau sekadar mengajak ngobrol di sekolah. Maklum waktu itu belum ada hape online yang bisa dipakai sms, chatting, friendster, facebook. Setahun berlalu dan tiba-tiba lahirlah keputusan darinya untuk mengakhiri masa "jadian", dengan alasan saya tidak pernah bisa keluar rumah untuk sekadar menonton bioskop. Memang waktu itu saya tidak diijinkan orang tua untuk keluar rumah dengan alasan-alasan semacam itu. Dan diputuskanlah saya. Setelah proses tidak terima, marah-marah, sedih, menangis berhari-hari dan berjanji dalam hati untuk tidak akan menerimanya kembali dan menghindari melihat mukanya lagi. Saya akhirnya berhasil melewati proses itu dengan segala kekonyolannya.
Apakah semua berhenti sampai di situ? Oh tentu saja tidak.. Saya kembali menjalani hubungan pacaran karena "ditembak" atau dijodoh-jodohkan oleh teman-teman, yang kembali berakhir karena pacar saya selingkuh, lalu karena ternyata perasaannya mentok dan hilang. Belum terpikir untuk berhenti saja deh "jadian-jadian", karena mungkin kayaknya ga keren kalo ga punya pacar. Di masa-masa ga punya pacar, saya naksir kakak kelas saya setengah mati, yang sialnya merhatiin saya pun engga.
Wah pokoknya di masa itu, berminggu-minggu dan berbulan-bulan di hari-hari tertentu air mata saya tumpah karena kecewa putus cinta, karena diselingkuhin, karena kecengan saya gak sedikit pun peduli. Dan semua hal itu berpengaruh ke mood saya. Saya jadi susah merhatiin pelajaran, jadi gak fokus sama hal-hal yang lebih bisa saya handle, dibanding ngurusin pacar. Tapi semua ya sudah berlalu dan cukup jadi cerminan betapa pacaran saat kita ABG begitu menghabiskan perasaan, air mata, energi, yang sebenarnya bisa kita salurkan ke hal lain yang lebih berguna buat diri sendiri, keluarga dan sahabat yang benar-benar tulus. Juga untuk masa depan. Bukan untuk pertengkaran dalam pacaran yang kerap kali terjadi, karena menyatukan dua orang yang berbeda toh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Waktu juga habis untuk komunikasi dengan ber-sms, chatting, atau telefon selama berjam-jam tanpa arah, yang mungkin akan lebih berguna untuk bantu mama di rumah atau untuk les hal-hal yang kita suka, dan uang pulsanya bisa ditabung.
Tapi sebagai remaja, tentu kita selalu ingin mencoba hal-hal baru dan menentang semua nasehat orang yang lebih tua. Karena kita pikir, toh ini hidup saya dan mereka semua tidak mengerti. Tapi ada hukum universal yang berlaku sejak dahulu kala dan sulit untuk kita lawan dan betapa nasehat-nasehat orang tua baru akan bisa kita terima di waktu kritis, saat kita menerima akibat kebandelan kita. Dan barulah saat itu kita sadar kesalahan dan kesia-siaan yang kita perbuat.
Jarang sekali ada yang bisa mempertahankan sebuah hubungan yang terjalin sejak awal masa remaja hingga ke sebuah komitmen pernikahan. Karena kita akan cenderung bosan dan mungkin juga kelelahan untuk menjalani hubungan dengan seseorang yang sama selama bertahun-tahun, saat hidup kita masih penuh warna-warni, ketidakstabilan dan hal-hal baru masih datang silih berganti.
Jadi pasti akan sulit menjawab pertanyaan seperti yang ada dalam lagu yang sedang "in" saat ini.. "Mau dibawa kemana hubungan kita? " :D Mungkin ada yang yakin, bahwa hubungannya akan sampai ke pernikahan. Mungkin ada yang diam, karena sebenarnya ia ragu-ragu atau bahkan tidak tahu mau kemana. Hanya senang-senang saja.
Semua ada waktunya. Kelak saat kita sudah jadi pribadi yang matang, dan punya kualitas positif yang kita dapat sepanjang perjalanan hidup, dalam kesendirian, tanpa "pacaran" yang cuma banyak mengundang bahaya dan menghabiskan tenaga, akan ada seseorang yang tepat untuk kita. Saat kita sudah benar-benar dewasa dan bisa bertanggung jawab untuk hal-hal lain di luar diri kita. Untuk membina hubungan yang bermakna untuk diri, keluarga dan yang paling penting tidak melanggar agama.
(Bersambung ya..)