Damaimu

25.12.10

Terima kasih Tuhan karena telah mengijinkan ku melihat sisi terbaik darimu, yang mungkin belum muncul bertahun-tahun yang lalu. Sempat ku lihat wajahmu bagai 'orang suci' di sebuah gambar yang dijepret sejawatmu. Kau begitu bersinar, setelah menerima semua tempaan, cacian dan makian.

Tak hanya memandangmu yang kini mendamaikanku, tapi juga mendengar seluruh tumpahan kata dari mulutmu, atau membaca barisan kata yang kau ketik dengan kedua tanganmu. Aku tahu kau sungguh-sungguh. Kau juga mungkin tahu, aku pun sungguh-sungguh.

Semoga kita bisa terus bersama, hingga masa yang ditentukan detak jarum jam tak lagi menjadi batasan.

Damaiku-Damaimu
Damaimu-Damaiku

Terlalu Pekat

3.12.10

Kini semuanya tak lagi sekadar berpusar di kepala. Aromamu bertambah pekat. Kenangan semakin melekat, bahkan di otakku yang tak terlalu baik dalam menyimpan dan mengingat.

Entah apa kau sanggup beranjak lagi. Jika kau tanyakan padaku, jawabanku, "Sepertinya tidak." Tolong tinggal sejenak, lupakanlah waktu, temani air mataku. Teteskan lara, merajut asa, menjalin mimpi, entaskan sepi-sepi. Kira-kira syair lagu itu yang bisa ku pinjam sementara.

Aku kehabisan kata. Jantungku tak berhenti melonjak-lonjak. Tanganku terlalu sibuk menangkap kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari. Aku masih melayang. Aku ada di awang-awang. Tolong jangan ingatkan aku tentang gravitasi. Aku masih ingin di sini. Sebentar lagi...