Mungkin

21.1.09

Saat kita mencintai, maka kita harus siap disakiti. Entah dalam proses saling mencintai. Entah juga karena suatu saat kita harus membiarkannya pergi.

Analogi sederhana yang bisa aku gambarkan seperti ini. Aku suka kucing, sejak mereka kecil hingga besar dan tua. Banyak perilaku kucing yang lucu, menggemaskan, tapi juga kadang berbahaya, terutama saat mereka mulai beranjak dewasa. Mereka sangat senang bermain-main, menggigit dan mencakar, serta melompat-lompat dan berlari-lari ke sana ke mari. Saat ini kuku dan gigi mereka mulai tajam dan sudah mampu mencabik. Ada kalanya mereka ingin bermain dan menjadikan tangan kita sebagai objeknya. Tiba-tiba mereka menyergap, menggigit, dan mencakar. Biasanya saat panik, reaksi kita adalah menarik tangan bahkan memukul atau menyerang balik si kucing. Padahal cara ini justru berpotensi membuat tangan kita luka parah. Menurut penyayang kucing, yang harus kita lakukan adalah membiarkannya menggigit, sambil berusaha menenangkan dan melepaskan gigitan serta cakarannya secara perlahan. Karena beberapa kucing sebetulnya hanya menggigit sebagai bentuk penyaluran kasih sayang atau sifat manja mereka pada si empunya. Ada saatnya juga kita harus merelakan si kucing pergi, entah karena hilang atau mati. Biasanya beberapa tetes air mata pun akan mengiringi kepergiannya. Tapi itulah dunia, tak ada yang abadi.

Mungkin demikian pula halnya saat kita berada dalam sebuah hubungan. Ada kalanya nada-nada tinggi berhamburan dan kata-kata kasar jatuh bagai hujan. Menarik diri mungkin justru akan membuat kita semakin terluka. Mungkin semua kekasaran dan kesakitan itu harus dihadapi. Di balik semua kekasaran itu mungkin masih terselip rasa sayang, bahkan sebetulnya ada rasa frustasi, karena si pasangan tidak bisa memberikan perlindungan yang kita butuhkan. Menyerang balik dengan melontarkan makian malah justru membuat kita semakin menyakiti satu sama lain. Semakin dalam sebuah perasaan, biasanya membuat seseorang semakin ekspresif pada orang yang disayanginya. Waktu dan sedikit kesabaran, sebetulnya mampu menjadi penyembuh dan membuat kita bertahan melawan rasa sakit, melawan egoisme. Di depan sana, kita mudah-mudahan kita bisa memahami dan lebih menyayangi. Juga bertahan, saat kita harus melepaskan dia pergi..

Kamu di Mataku Hari Ini

20.1.09

Aku menemuimu untuk bicara.. sedikit menumpahkan apa yang sedang ku rasa..
Aku cuma butuh tatapan teduhmu.. saat hati ini luka.. saat aku gundah gulana..
Aku hanya perlu kata-katamu yang sejukkan ku, saat hati sedang membara..
Aku tak minta bantuan.. Aku tak minta penyelesaian..
Aku sangat tahu bahwa kita memulai semua tanpa tujuan, hanya karena kenyamanan.. karena kebutuhan..
Kini semua masih sama.. Aku hanya butuh perlindungan.. sedikit waktu untuk ungkapkan perasaan, kemarahan, dan kepedihan..
Tapi hari ini aku mendapat tamparan.. meski ringan..
Tak mengapa.. aku masih bisa bertahan..

Sebetulnya aku hanya ingin didengar..

Comment
and
January 21, 2009 @ 11:38 pm
siapa yang berani nampar loe??? sini biar tak tampar balik! tapi dengan ringan juga kok hehe
24

kurniawan
January 21, 2009 @ 11:41 pm |Edit This
jadi ini yang membuatmu murung durjana..hmm..cinta..cinta.. ;P