Hujan dan Jawaban

13.11.08

Sabtu sore di tengah guyuran hujan..melaju dengan kecepatan 60 km/jam.. tak bisa lebih cepat lagi.. bisa terhempas di genangan air..

Masih dalam proses bertanya dan mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa”..
Mempertanyakan sikap..mempertanyakan pilihan dari seseorang yang tak punya jawaban..
Masih menyalahkan keadaan.. dan muak dengan intropeksi.. Apa yang salah dengan aku? Pertanyaan itu terus berulang dan berulang di kepala..

Hingga jawaban itu muncul begitu saja.. seakan turun dari langit dibawa tetesan hujan.. Jawaban ini mungkin terdengar egois,”Gak ada yang salah. Semua masalah pilihan. Masalah sudut pandang.” Jawaban yang menenangkan diri sendiri..
Dalam benak aku mulai paham bahwa bagi sebagian orang, “atribut” sangatlah penting. Bukan kualitas diri.. Bukan kualitas personal. Bukan diri yang dilihat menonjol dan atribut serta lingkungan hanya sebagai latar. Tapi atribut dan lingkunganlah yang menentukan nilai seseorang. Embel-embel keturunan, harta, pangkat, tingkat pendidikan masih memegang kuasa yang menentukan derajat seseorang. Bila semua hilang.. lantas tak lagi bernilai?

Jawabku, “Gak sepicik itu.” Bukan itu nilai yang ku maksud. Bukan itu yang aku mau.. Dalam satu hubungan.. Bagiku.. yang penting hanya menyatukan dua jiwa yang mau bersama dan melintas dunia yang penuh tanda tanya..Bagiku.. yang penting bukan menyatukan dua jiwa untuk saling mendapatkan kehormatan dan keuntungan..
Bagiku.. yang penting hanya menyatukan dua orang dengan perasaan, keinginan, harapan dan mimpi yang sama..

Bagiku kehormatan bukan dicari..bukan dipilih..bukan dinilai.. tapi dibangun..
Mungkin.. bisa berawal dari besarnya cinta, kerasnya usaha, dan keinginan untuk tetap bersama..mempertahankan apa yang sudah dipunya.. bukan mempersalahkan apa yang tidak ada.. tapi menikmati setiap tarikan nafas, bahagia dan getir dalam nuansa yang disebut cinta.. yang kadang menjelma menjadi cemburu, benci, kecewa, marah, lelah.. tapi ia tetap ada.. dan tetap bernama cinta..
Bukan menyerah atas nama cinta..

Tapi sudahlah.. cinta mungkin memang tidak pernah ada.. Yang ada hanya zona aman, rasa nyaman, dan kesenangan.. Zona itu hilang sudah.. Saatnya berpindah ke zona lain.. Karena toh zona itu memang dicari..bukan dibangun di atas rasa cemburu, benci, kecewa, marah dan lelah yang jadi jelmaan cinta..
Bangun! Aku menampar diri sendiri.

Cinta mungkin memang tidak pernah ada beberapa tahun terakhir ini.. Jadi jangan mengatasnamakan cinta (sesuatu yang tidak pernah ada)..
Bersyukur, terbebas dari kebohongan dan sistem ‘penilaian’ yang diciptakan manusia..
Hanya berharap.. Tuhan punya nilainya sendiri dan hanya Ia yang berhak menilai..

Comment
ryzz
November 25, 2008 @ 6:27 pm
It’s true vy.. hanya Dia yg Maha Menilai… ayo vy, bsemangatlah untuk mencari sedikit jawaban dari dunia yang penuh tanda tanya ini. dan secercah harapan di antara ketidakpastian hidup. ayo sama2 bjuang!! =)) luv u dear


mel
November 30, 2008 @ 8:57 pm
Iya ni vy, hidup itu memang selalu penuh pilihan. Kadang, bahkan setelah memilih pun tidak serta merta menyelesaikan masalah. Pertanyaan juga semakin banyak muncul yg kadang mengombang ambingkan pilihan dan keyakinan. Sampai sekarang masih terus bertanya, apakah ini memang cinta atau memang cinta tak pernah ada? atau memang ekspektasi q yang terlalu tinggi tentang cinta? Entah!

Semangat vy…


ndhin
December 17, 2008 @ 3:15 am
gw juga jadi ga ngerti, apakah cinta seperti air, yang bisa menyesuaikan dirinya dengan tempat yang ia diami?
apa cinta memang nggak pernah punya bentuknya sendiri?
atau cuma gw yang nggak bisa ngerti ya?
hehehe…
selamat menikmati hidup…:)