Reflection Part I

2.8.07

No matter How Hard We Try..
I am doing a perfect job with a perfect plan.. n I’m sure it must run well.. Everything has been calculated and anticipated.. I wonder how it end up with crash..boom..bang..
Not everything is under control..
Kalau ada yang pernah bilang bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Saya pikir itu ada benarnya juga. Kita gak selamanya di atas, gak selamanya di tengah, & gak selamanya di bawah.. Siapa ya yang mengatur putaran rodanya?
Kalau ada yang bilang hidup ini seperti lingkaran atau seperti siklus, kita berjalan & singgah di titik-titik yang berbeda dalam hidup kita, itu ada benarnya juga dan kadang kita kembali ke titik awal dimana kita mulai semuanya.
Kadang manusia pun mengulang siklus yang sama, mengulangi kesalahan yang sama, kebodohan yang sama, kejahatan yang sama. Sehebat apapun manusia, tampaknya belajar dari kesalahan bukan satu hal yang mudah untuk dilakukan.
Tapi siapa ya yang menggambar lingkarannya?
Masa depan..
Sesuatu yang semestinya dirancang, diperjuangkan, dievaluasi langkah demi langkah. Tapi ternyata 'melakukan' memang lebih sulit dari sekedar 'membicarakan'. Sehebat apa pun rencana yang pernah kita buat kadang hasil akhirnya jauuuuuuuhh sekali dari apa yang pernah kita bayangkan. Antisipasi, mungkin itu satu hal yang harus kita persiapkan.. Tapi kadang bencana yang datang pun tidak sesuai dengan antisipasi yang telah kita buat.
Keterbatasan..
Juga satu hal yang kadang bisa jadi penghalang, keterbatasan dana, keterbatasan kemampuan, keterbatasan waktu..
Akhirnya.. manusiawi saya pikir untuk jadi emosional dan berteriak.. "Kalo semua rencana pun gak bisa dijalankan ngapain mesti buat rencana??!!"
Toh betapa hebatnya kita, hidup tetap diatur oleh super sutradara "Tuhan Yang Maha Kuasa.." yang berhak buat kita susah, senang, kaya, miskin, sakit, sehat.. Kita gak lebih dari pion di atas papan catur..
Desperado..
Beberapa orang berkahir di "mental hospital" beberapa orang berakhir di "tali gantungan, rel kereta api, di empuknya tanah setelah terbang bebas dari gedung yang tingginya berlantai-lantai."
Menerima.. berprasangka baik.. ikhlas..
semua itu KONSEP yang mungkin bisa buat kita selamat dari malaikat maut yang datang menjemput akibat keinginan untuk terbang bebas, keluar dari raga, keluar dari kejamnya dunia, atau terhindar dari perjalanan panjang melintasi dunia yang dimaknai sangat berbeda dengan orang-orang di sekeliling kita. Membangun dunia sendiri, di dalam dunia orang lain..
Konsep..
Satu hal yang agak rumit untuk dilakukan adalah saat harus menurunkan suatu konsep menjadi satuan tingkah laku, satuan aktivitas, satuan emosi yang 'sesuai' dengan konsep itu sendiri. Mengalami dan merasakan tidak akan pernah sama rasanya dengan hanya melihat dan mencoba merasakan..
Waktu dan proses panjang..
Mungkin adalah dua hal penting dalam proses belajar manusia, untuk jatuh, bertahan, lari sembunyi atau menghadapi, mencari solusi, menerima hasil, berdiri lagi, berlari, dan mungkin sambil bersiap untuk jatuh lagi..
Berusaha dan bekerja keras sudah tentu butuh energi yang luar biasa besar. Dibutuhkan asupan energi yang lebih besar dari sekedar energi fisik untuk bisa menyelesaikan semua yang harus diselesaikan.
Tapi menunggu.. pun tak kalah hebatnya dari usaha mencukupi "energi" yang diperlukan.Sebagian orang akan mengalami kesulitan untuk mengatur nafas, berpikir, menyaksikan tanpa terlibat, menahan tekanan dan himpitan, berpacu dengan waktu, tanpa ada yang bisa ia lakukan selain menunggu..
Benar-benar tak ada pilihan?
Bagi sebagian orang hidup mungkin hanya masalah pilihan.. Di satu waktu mungkin ada beragam pilihan yang ditawarkan dan kita diberikan keleluasaan untuk memilih. Namun di satu titik lain pada rentang kehidupan, ternyata hanya ada sedikit pilihan, atau ada banyak pilihan yang ternyata tak mudah untuk diambil, pilihan pun jatuh pada menunggu..
Benar-benar tidak berdaya..
Di satu titik kesadaran, saya melihat bahwa saya tidak lebih dari setitik pasir, sebutir embun, atau mikroorganisme dalam ruang luas yang disebut alam semesta. Tanpa kekuasaan mengatur angin, hujan, dan panas matahari. Bahkan mengatur irama detak jantung dalam tubuh saya pun sulit untuk dilakukan.
Di luar kuasa saya, jantung itu bisa tiba-tiba berhenti berdetak. Jika itu sampai terjadi saya pun belum tau akan lari kemana. Kalau saya ibarat pengemudi mobil, saya punya kuasa untuk menghidupkan dan mematikan mesinnya. Saat saya putuskan nasib mobil itu dengan memarkirnya di rumah yang teduh dan menyuruhnya beristirahat sebelum nanti saya hidupkan lagi dan ia akan menempuh perjalanan barunya. Saya punya kuasa atas si mobil. Saya pemiliknya..
Jika ada Dzat yang berhak mengatur kapan, dimana, dan bagaimana jantung saya berhenti berdetak, mungkin saya harus belajar untuk berhenti membangkang, seperti mobil yang tidak pernah terus berjalan saat saya coba hentikan..
Mungkin mobil itu akan menabrak sesuatu yang besar dan hancur berkeping-keping, tanpa bisa kembali berjalan..
Saya menyerah pada Tuhan..
Saat Dia minta saya untuk berusaha dengan keras, saya coba untuk tak buang waktu..
Saat Dia minta saya untuk memperlambat jalan saya, akan saya perlambat..
Saat Dia minta saya untuk menunggu, saya akan coba untuk menunggu..
Hidup ini agak terlalu sulit untuk ditebak ke mana arahnya.. Panjang track-nya pun berkali2 lipat panjang sirkuit Laguna Seca..
dan Tuhan sudah pasang rambu-rambu di sepanjang jalan kehidupan..
Saat rambu maksimal kecepatan dipasang, hal yang bijak untuk tidak melampaui batas..
Saat lampu merah menyala mungkin memang saat yang tepat untuk berhenti sejenak..
Saya mencari sesuatu yang Maha Besar, Maha Mengetahui, dan Maha Penyayang.. yang mengatur hidup, mati, dan perjalanan hidup saya. Terlalu angkuh jika saya pikir bisa mengatur hidup saya 100% sendiri. There will always be something bigger than ourselves..
Pencarian mungkin akan memakan waktu.. dan semakin lama semakin banyak yang kita temukan. Berharap penemuan, perlahan akan pupuskan keangkuhan..

-2807-